Jumat, 28 Oktober 2022

TEKNIK BERFIKIR KRITIS - M ULUL AZMI

A. LATAR BELAKANG

Menurut Ennis berpikir kritis adalah berpikir logis dan reflektif yang difokuskan pada pengambilan keputusan yang akan dipercayai atau dilakukan. “Kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang Bertujuan atau berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya suatu sistem sosial atau Proses bermasyarakat. Berdasarkan definisi dari dua kata tersebut yaitu kritik dan Sosial, kritik sosial adalah suatu aktifitas yang berhubungan dengan penilaian (juggling), perbandingan (comparing), dan pengungkapan (revealing) mengenai Kondisi sosial suatu masyarakat yang terkait dengan nilai-nilai yang dianut Ataupun nilai-nilai yang dijadikan pedoman.

Amalia (2010) menyatakan bahwa kritik sosial adalah sindiran, tanggapan, Yang ditujukan pada suatu hal yang terjadi dalam masyarakat manakala terdapat Sebuah konfrontasi dengan realitas berupa kepincangan atau kebrobokan. Kritik Sosial diangkat ketika kehidupan dinilai tidak selaras dan tidak harmonis, ketika Masalah-masalah sosial tidak dapat diatasi dan perubahan sosial mengarah kepada Dampak-dampak disosiatif dalam masyarakat.

Kritik sosial timbul karena ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap Kenyataan hidup yang dinilai tidak sesuai. Adanya penyimpangan dalam Kehidupan masyarakat akan memunculkan kritik dalam kelompok Masyarakat tersebut. Kritik juga dapat disampaikan dalam bentuk langsung Dan tidak langsung. Melakukan sebuah kritik sosial haruslah memiliki dasar kritik sosial, supaya kritik yang kita sampaikan lebih mengena dengan apa yang mau kita kritisi. Dari hal tersebut kritik sosial terdapat sebuah Teknik untuk melakukan kritik sosial secara terstruktur. 

B. TUJUAN

Untuk mengetahui bagaimana teknik yang digunakan dalam melakukan kritik sosial agar lebih tepat sasaran.

C. PEMBAHASAN

a. Cara berfikir kritis

Facione mengemukakan inti kemampuan berpikir kritis melingkupi interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, self-regulation. Interpretation (interpretasi), yaitu memahami dan mengekspresikan arti atau maksud dari pernyataan matematika atau masalah matematika. Analysis (analisis), yaitu mengidentifikasi hubungan antara informasi yang diberikan, masalah yang akan diselesaikan, dan semua konsep yang diperlukan dalam menyusun rencana penyelesaian masalah. Evaluation (evaluasi), yaitu menilai kredibilitas pernyataan dan menilai kekuatan logis dari pernyataan/penyelesaian masalah yang telah dilakukan. Inference (inferensi), yaitu menarik kesimpulan yang masuk akal dengan memberikan semua alasan yang penting dan masuk akal.

b. Macam-macam Jenis kritik sosial

Menurut Retnasih (2014), berikut adalah jenis-jenis kritik sosial berlandaskan

Konsep sosiologi sastra Marx.

1. Kritik Sosial Masalah Politik

Menurut Sanderson dalam Retnasih (2014), kritik sosial pada masalah politik membahas tentang suatu sistem politik yang terdiri dari hukum dan keterlibatannya di dalam masyarakat serta untuk mengetahui hubungan eksternal diantara dan di lingkup masyarakat.

2. Kritik Sosial Masalah Ekonomi

Menurut Sumaatmadja dalam Retnasih (2014), kritik sosial pada masalah ekonomi membahas berbagai permasalahan yang menyangkut cara bagaimana individu dapat memenuhi berbagai kebutuhannya dari sumber daya yang terbatas hingga yang langka jumlahnya.

3. Kritik Sosial Masalah Pendidikan

Menurut Ahmadi & Nur dalam Retnasih (2014), Kritik sosial pada masalah pendidikan membahas berbagai masalah pendidikan baik dalam skala keluarga maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Kritik Sosial Masalah Kebudayaan

Kritik sosial masalah kebudayaan membahas berbagai unsur pokok kebudayaan itu sendiri. Menurut Charon dalam Retnasih (2014), kebudayaan memiliki empat unsur kebudayaan yaitu ide tentang kebenaran (truth), yang bernilai (values), yang dianggap khusus untuk mencapai tujuan tertentu (goals), dan ide tentang bagaimana manusia melakukan sesuatu yang berkaitan dengan norma.

5. Kritik Sosial Masalah Moral

Kritik sosial pada masalah moral membahas segala sesuatu yang berhubungan tentang suatu sistem nilai yang dianut dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Salam dalam Retnasih (2014), sistem nilai terdiri dari wejangan, peraturan dan perintah yang diwariskan secara turun-temurun, yang kemudian membentuk suatu ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup.

6. Kritik Sosial Masalah Keluarga

Kritik sosial pada masalah keluarga membahas mengenai disorganisasi keluarga yang mana dikarenakan anggotanya gagal dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan peranan sosialnya. Disorganisasi keluarga biasanya terjadi akibat adanya perbedaan pandangan atau faktor ekonomi. Dengan adanya kritik sosial diharapkan konflik pada disorganisasi keluarga dapat diminimalisir dan terciptanya keluarga yang harmoni.

7. Kritik Sosial Masalah Agama

Kritik sosial pada masalah agama membahas mengenai berbagai konflik kepercayaan maupun keyakinan yang dianut dalam masyarakat. Menurut Salam dalam Retnasih (2014), agama memiliki fungsi penting yaitu untuk memperkaya, memperhalus dan membina kebudayaan manusia. Namun, kebudayaan itu sendiri tidak memberi pengaruh terhadap pokok ajaran yang ditetapkan oleh suatu ajaran agama.

8. Kritik Sosial Masalah Gender

Kritik sosial masalah gender membahas permasalahan tentang perbedaan gender terhadap peran dan kedudukannya di masyarakat dalam berinteraksi dan bersosialisasi di kehidupan masyarakat.

9. Kritik Sosial Masalah Teknologi

Kritik sosial pada masalah teknologi lebih membahas tentang perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial di masyarakat.

D. Teknik melakukam kritik sosial yang membangun

a. Identifikasi permasalahan atau pertanyaan.

Identifikasilah masalah yang kamu hadapi setepat mungkin. Semakin tepat kamu menganalisa, maka akan semakin mudah untuk kamu mencari solusi atau jawabannya.

b. Kumpulkan data, pendapat, dan juga argumen.

Carilah beberapa sumber yang menyampaikan hal-hal yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula.

c. Analisa dan evaluasi data yang telah terkumpul.

Pastikan sumber yang kamu gunakan valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Cari tahu juga apakah kesimpulan yang kamu ambil memiliki data pendukung atau hanya bersifat argumentatif.

d. Identifikasi data yang kamu temukan dengan asumsi

Asumsikan jika sumber yang kamu gunakan bias ataupun jika kamu yang bias dalam mencari jawaban. Hal ini akan membuat kamu untuk berpikir dua kali.

e. Tentukan hal-hal yang signifikan

Misalnya, hal apa yang paling penting, atau apakah jawaban yang kamu temukan sudah memadai, dan yang pasti apakah jawaban yang kamu temukan relevan dengan masalah yang sedang kamu hadapi.

f. Buat keputusan untuk mencapai kesimpulan

Identifikasi beberapa kesimpulan yang telah kamu temukan dan tentukan mana yang paling cukup terdukung. Timbang pro dan kontra dari semua kemungkinan.

g. Gunakan buah pikirmu

Setelah mencapai kesimpulan, kamu dapat menggunakan hasil dari pikiranmu untuk memecahkan masalah.


Selasa, 04 Oktober 2022

MACAM-MACAM KRITIK SOSIAL

 KRITIK SOSIAL

Kritik sosial merupakan sebuah inovasi baru yang mengartikan  sarana komunikasi/gagasan baru di samping menilai gagasan lama untuk menciptakan suatu perubahan. Kritik sosial sebagai sarana komunikasi pada masyarakat yang berfungsi sebagai kontrol sosial atau proses bermasyarakat.  kritik sosial merupakan bentuk perlawanan atau tidak sependapat seseorang atau kelompok tertentu terhadap kenyataan yang telah terjadi dalam sebuah kelompok masyarakat.¹

Kritik sosial merupakan gagasan baru dalam sarana komunikasi sekaligus mengevaluasi perubahan maupun isu sosial. Menurut Walzer dalam mengemukakan bahwa kritik sosial merupakan aktivitas sosial berupa pengamatan dan upaya membandingkan dengan cermat tentang perkembangan kualitas masyarakat. Menurut Supraja menyatakan bahwasannya tujuan sosial memiliki tujuan untuk mewujudkan emansipasi, perubahan sosial dan pencerahan. Ada berbagai media dalam mengungkapkan kritik sosial seperti menggunakan media tradisional yaitu pertunjukan, seni dan sastra, maupun media massa. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, terdapat media baru seperti media sosial, yang juga dapat dimanfaatkan sebagai media kritik. Secara sederhana, kritik sosial merupakan suatu tanda adanya kepekaan sosial. Tentunya, kritik sosial yang sempurna adalah kritik sosial yang murni. Kritik sosial yang murni adalah apabila kritik tersebut tidak didasari hanya semata-mata untuk kepentingan pribadi saja melainkan juga memperhatikan kepentingan khalayak banyak dan kebutuhan nyata masyarakat Saat ini kritik merupakan sebuah bentuk komunikasi yang memiliki tujuan dan berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya suatu sistem sosial atau proses dalam bermasyarakat.²


FENOMENA KRITIK SOSIAL

Abdulsyani (2012:183) mengatakan bahwa masalah sosial itu bisa muncul karena nilai-nilai atau unsur-unsur kebudayaan pada suatu waktu mengalami perubahan sehingga menyebabkan anggota-anggota masyarakat merasa terganggu atau tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya melalui kebudayaan itu. Soekanto membagi masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat secara umum menjadi sembilan, yaitu (1) kemiskinan, (2) kejahatan, (3) disorganisasi keluarga, (4) masalah generasi muda dalam masyarakat modern, (5) peperangan, (6) pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, (7) masalah kependudukan, (8) masalah lingkungan hidup, dan (9) birokrasi.³

BENTUK DAN JENIS KRITIK SOSIAL

Kritik sosial terdiri dari kritik sosial secara langsung dan tidak langsung. Aksi sosial, aksi unjuk rasa dan demonstrasi merupakan suatu bentuk kritik sosial secara langsung. Adapun bentuk kritik sosial secara tidak langsung antara lain seperti kritik melalui puisi, kritik melalui lagu, kritik melalui film, aksi teatrikal dan lain sebagainya. Berbagai bentuk kritik sosial tersebut memiliki pengaruh dan dampak sosial yang penting didalam kehidupan masyarakat.

Menurut Retnasih (2014), berikut adalah jenis-jenis kritik sosial berlandaskan

konsep sosiologi sastra Marx.

1. Kritik Sosial Masalah Politik

Menurut Sanderson dalam Retnasih (2014), kritik sosial pada masalah politik membahas tentang suatu sistem politik yang terdiri dari hukum dan keterlibatannya di dalam masyarakat serta untuk mengetahui hubungan eksternal diantara dan di lingkup masyarakat.

2. Kritik Sosial Masalah Ekonomi

Menurut Sumaatmadja dalam Retnasih (2014), kritik sosial pada masalah ekonomi membahas berbagai permasalahan yang menyangkut cara bagaimana individu dapat memenuhi berbagai kebutuhannya dari sumber daya yang terbatas hingga yang langka jumlahnya.

3. Kritik Sosial Masalah Pendidikan

Menurut Ahmadi & Nur dalam Retnasih (2014), Kritik sosial pada masalah pendidikan membahas berbagai masalah pendidikan baik dalam skala keluarga maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Kritik Sosial Masalah Kebudayaan

Kritik sosial masalah kebudayaan membahas berbagai unsur pokok kebudayaan itu sendiri. Menurut Charon dalam Retnasih (2014), kebudayaan memiliki empat unsur kebudayaan yaitu ide tentang kebenaran (truth), yang bernilai (values), yang dianggap khusus untuk mencapai tujuan tertentu (goals), dan ide tentang bagaimana manusia melakukan sesuatu yang berkaitan dengan norma.

5. Kritik Sosial Masalah Moral

Kritik sosial pada masalah moral membahas segala sesuatu yang berhubungan tentang suatu sistem nilai yang dianut dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Salam dalam Retnasih (2014), sistem nilai terdiri dari wejangan, peraturan dan perintah yang diwariskan secara turun-temurun, yang kemudian membentuk suatu ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup.

6. Kritik Sosial Masalah Keluarga

Kritik sosial pada masalah keluarga membahas mengenai disorganisasi keluarga yang mana dikarenakan anggotanya gagal dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan peranan sosialnya. Disorganisasi keluarga biasanya terjadi akibat adanya perbedaan pandangan atau faktor ekonomi. Dengan adanya kritik sosial diharapkan konflik pada disorganisasi keluarga dapat diminimalisir dan terciptanya keluarga yang harmoni.

7. Kritik Sosial Masalah Agama

Kritik sosial pada masalah agama membahas mengenai berbagai konflik kepercayaan maupun keyakinan yang dianut dalam masyarakat. Menurut Salam dalam Retnasih (2014), agama memiliki fungsi penting yaitu untuk memperkaya, memperhalus dan membina kebudayaan manusia. Namun, kebudayaan itu sendiri tidak memberi pengaruh terhadap pokok ajaran yang ditetapkan oleh suatu ajaran agama.

8. Kritik Sosial Masalah Gender

Kritik sosial masalah gender membahas permasalahan tentang perbedaan gender terhadap peran dan kedudukannya di masyarakat dalam berinteraksi dan bersosialisasi di kehidupan masyarakat.

9. Kritik Sosial Masalah Teknologi

Kritik sosial pada masalah teknologi lebih membahas tentang perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial di masyarakat.⁴

ETIKA DAN LANDASAN SEBELUM MELAKUKAN KRITIK SOSIAL

Sebuah kritikan adalah sesuatu yang sangat berharga dan mempunyai tujuan yang baik. Bila bisa diterima dengan lapang dada, akan mampu mengoreksi kekeliruan yang terjadi dan membuat perbaikan. Bila tidak, yang terjadi hanya rasa tidak nyaman dan rasa gagal melakukan tugas. Sebaliknya, memberi kritik dianggap lebih mudah karena hanya menyampaikan apa yang tidak berkenan, padahal sebenarnya tidak juga. Memberi ataupun menerima kritikan sama-sama membutuhkan strategi dan kebijaksanaan. Isi kritikan sebaiknya yang berhubungan dengan topik permasalahan, bukan yang menyangkut pribadi atau hal lainnya dari topik tersebut. Karena itulah ada beberapa prinsip yang perlu digunakan saat memberikan Kritik pada seseorang, yang pertama adalah dengan menggunakan strategi pujian, Kritik-puji. Awali dengan pujian, dan akhiri dengan pujian. Yang kedua yaitu pilih Situasi dan kondisi yang tepat. Saat ingin menyampaikan kritik, lihat situasi dan kondisi yang bersangkutan, tunggu hingga waktu dan kondisi yang kondusif. Jika waktunya tidak tepat, tujuan dari kritik bisa tidak tercapai. Yang ketiga sesuai fakta, sebelum mengutarakan kritikan, pastikan apa yang akan disampaikan. Pahami benar apa yang akan diutarakan. Lalu yang keempat berikan waktu. Kritikan bukan hukuman, kritikan adalah sebuah koreksi agar yang dikritikMenjadi lebih baik. Secara psikologis, dalam mengkritik penting untuk Memberikan ruang waktu antara saat memberikan kritikan dan penjelasan dari Yang bersangkutan.⁵

GAYA BAHASA KRITIK SOSIAL

Ada 4 macam gaya yangs ering terjadi dalam melakukan kritik, yang pertama adalah Gaya bahasa ironi adalah gaya bahasa sindiran yang memiliki maksud berlainan Dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Bahasa yang digunakan Adalah bahasa halus. Yang kedua, Sinisme adalah gaya bahasa yang bertujuan menyindir sesuatu secara lebih kasar Dibandingkan dengan gaya bahasa ironi. Yang ketiga, Sarkasme adalah gaya bahasa sindiran dengan menggunakan kata-kata yang Kasar dan keras (paling kasar) dibandingkan dengan ironi dan sinisme. Yang keempat, Satire adalah sindiran dengan cara menertawakan.


DAFTAR PUSTAKA

Az-Zahra, N. Q., & Devi, W. S. ANALISIS KRITIK SOSIAL DALAM NASKAH DRAMA BULAN BUJUR SANGKAR KARYA IWAN SIMATUPANG. Jurnal Edukasi Kultura: Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya, 8(2).

Praditama, R. R. (2022). Kritik Sosial terhadap Praktik Beragama di Indonesia (Analisis Semiotika pada Komik Berjudul Islam Nusantara Karya Aji Prasetyo) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).

Adiyanti, R. M., & Agustiningsih, D. D. (2021). Kritik Sosial dalam Kumpulan Puisi Negeri Terluka Karya Saut Situmorang. Jurnal Bahtera Sastra Indonesia, 3(1).

Asriana Mentari, M. (2016). Perancangan Kampanye Etika Penyampaian kritik Sosial Di Jejaring Sosial (Doctoral dissertation, Universitas Komputer Indonesia).

Untari, D. (2017). Gaya Bahasa Sindiran sebagai Kritik Sosial dalam Wacana Meme Berbahasa Jawa di Akun Instagram Dagelan_Jowo (Kajian Stilistika Pragmatik) (Doctoral dissertation, UNS (Sebelas Maret University)).





Selasa, 20 September 2022

Analisis Dampak Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Pada Perilaku Masyarakat Ekonomi (E-Commerce)

 

Analisis Dampak Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Pada Perilaku Masyarakat Ekonomi (E-Commerce)

Judul : Analisis Dampak Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Pada Perilaku Masyarakat Ekonomi (E-Commerce)

Peneliti : Hani Atun Mumtaha, Halwa Annisa Khoiri

Media Penerbit : http://pilar.unmermadiun.ac.id/index.php/pilarteknologi

Tahun : 2019

Fokus pembahasan : Perubahan tingkah laku masyarakat yang mengikuti perkembangan teknologi dan berpusat pada kebutuhan yang dikenal dengan society 5.0 yang dimana pada era ini setiap perilaku kehidupan akan diterjemahkan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) lalu disebarkan oleh internet.

Dalam revolusi industri 4.0 banyak teknologi yang berkembang dan sangat memudahkan segala kegiatan. Sedangkan society 5.0 menjanjikan kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Hal ini sangat terlihat jelas dengan contoh kecil yaitu munculnya perusahaan GO-JEK sebagai penyedia layanan jasa transformasi.

Jurnal ini memfokuskan pada survey pada perilaku masyarakat ekonomi terhadap e-commerce, tepatnya pada masyarakat UNIPMA.

Metode dalam penelitian : Metode dalam penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif, yaitu metode yang menghasilkan data dari survey yang dilakukan pada sejumlah responden. Penelitian ini untuk mengetahui seberapa pentingnya e-commerce dalam mempengaruhi gaya hidup dan ketergantungan terhadap teknologi. Jumlah responden yakni 67 dan rata-rata usia 18 sampai 34 tahun.

Hasil temuan : Data statistik yang menunjukkan prosentase pelaku e commerce lebih didominasi oleh masyarakat ekonomi dengan usia 19 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku bisnis pada usia tersebut lebih gemar malakukan transaksi online daripada media sosial.

bahwa hanya 26.9% yang sangat mengetahui mengenai e-commerce. Saat ini di Indonesia berkembang e-commerce yang cukup pesat di berbagai kebutuhan, seperti fashion, jasa transportasi, makanan, dan sebagainya. Berdasarkan hasil survey, diketahui bahwa top-five e-commerce yang diketahui responden adalah Shopee, Traveloka, Bukalapak, Lazada, dan Tokopedia. Selain mengetahui mengenai e-commerce, sebanyak 77.6% responden pernah bertransaksi di top-five e-commerce. Keperluan yang dibelipun bervariasi, dan persentase terbesar adalah fashion, buku, dan peralatan elektronik.

Data statistik tentang barang yang paling digemari saat membeli di e-commerce

Data mengenai alasan lebih suka membeli e-commerce dibandingkan dengan belanja konvensional.

Kelebihan jurnal : Hasil temuan dijelaskan secara jelas. Serta di berikan gambaran data yang sangat jelas.

Dijelaskan permasalahan dan perkembangan tentang industri dari 1.0 sampai 4.0.

Kekurangan jurnal : Tidak menyertakan sitasi pada jurnal yang di teliti.


Rabu, 01 Desember 2021

Soft news- berita kuliner- m ulul azmi

Kunjungi Surabaya Street Food kedai makanan khas jawa 

 


Indonesia merupakan negara yang kaya dengan kuliner. Kekayaan budaya dan kuliner membuat kuliner jawa selalu ramai peminat. Begitu pula bagi Anda yang tinggal dan berkunjung ke kawasan Surabaya, sukodono masangan wetan. Bagi Anda pecinta kuliner akan dimanjakan dengan lebih dari 7 makanan dan 12 minuman ala jawa. Mulai olahan jajanan pasar seperti kue lapis, lemper, bikang dll makanan  tradisional yang berat seperti bakmi, nasi goreng, bakso dan masih banyak lainnya. Selain itu suasana menyantap kuliner juga semakin menarik dengan iringan lagu-lagu dangdut populer yang membuat pengalaman kuliner Anda lebih menyenangkan. Jika Anda berada di kawasan sukodono masangan wetan, dapat berkunjung ke Street food kedai kampung rasakan langsung jajan di kedai aneka makanan khas jawa di surabaya.

Senin, 28 Juni 2021

PARADIGMA KOMUNIKASI

PARADIGMA KOMUNIKASI



Paradigma adalah sudu pandang terhadap sesuatu, dalam ilmu komunikasi paradigma ilmunya berkembang sangat pesat. Selain komunikasi sebagai ilmu sosial yang terus berkembang, paradigma yang mempengaruhinya ikut berkembang secara revolusioner. Paradigma lama dan baru saling mempengaruhi membentuk ilmu komunikasi semakin dalam dan luas. Perkembangan paradigma komunikasi tersebut secara tidak langsung berpengaruh juga pada perkembangan sudut pandang pada komunikasi politik, sebagai bagian dari ilmu komunikasi yang terus berkembang. Ada 4 paradigma yang dikenal mempengaruhi tumbuh kembang ilmu komunikasi termasuk di dalamnya komunikasi politik.[1]

Menurut Harmon (dalam Moleong,2004: 49), paradigma adalah cara mendasar untuk melakukan persepsi, berpikir, meni-lai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang realitas. Bogdan & Biklen (dalam Mackenzie & Knipe,2006) menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi, kon-sep, atau proposisi yang berhubungan secara logis, yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Sedangkan Baker (dalam Mo-leong, 2004: 49) mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan yang (1) mem-bangun atau mendefinisikan batas-batas; dan (2) menjelaskan bagaimana sesuatu harus di-lakukan dalam batas-batasitu agar berhasil.

Cohenn & Manion (dalam Mackenzie & Knipe, 2006) membatasi paradigma sebagai tu-juan atau motif filsofis pelaksanaan suatu pene-litian. Berdasarkan definisi diatas, dapat kita tarik benag merahnya bahwa paradigma ialah suatu konsep, metode dan kaidah-kaidah aturan- aturan yang dijadikan suatu kerangka kerja pelaksanaan dalam sebuah penelitian.

VARIAN VARIAN PARADIGMA

Paradigma penelitian adalah pola pikir atau cara pandang (aliran/mazhab) mengenai keseluruhan proses, format dan hasil peneli-tian. Ragamnya dintaranya adalah: (1) Positi-vis; (2) Interpretif; dan (3) Kritis.

·        •Paradigma Positivis

Paradigma Positivisme merupakan ali-ran filsafat yang dinisbahkan/ bersumber dari pemikiran Auguste Comte seorang filosof yang lahir di Montpellier Perancis pada ta-hun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain filosof Inggris John Stuart Mill (juga seorang ahli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. Pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya an-tara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Posi-tive (Sistem politik positi)f. Pandangan para-digma ini didasarkan pada hukum-hukum dan prosedur-prosedur yang baku; ilmu dianggap bersifat deduktif,berjalan dari hal yang umum dan bersifat abstrak menuju yang konkit dan bersifat sepesifik; ilmu dianggap nomotetik, yaitu didasarkan pada hukum-hukum yang kausal yang universal dan melibatkan sejum-lah variable.Paradigma positivitis pada ak-hirnya melahirkan pendekatan kuantitatif.

·        •Paradigma Interpretif

Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretatif diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretatif merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi. (Newman,1997: 68). Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam me-mahami makna sosial. Interpretif melihat fak-ta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang me-lekat pada sistem makna dalam pendekatan interpretatif. Fakta-fakta tidaklah imparsial, objektif dan netral. Fakta merupakan tindakan yang spesifik dan kontekstual yang beragan-tung pada pemaknaan sebagian orang dalam situasi sosial. Interpretif menyatakan situasi sosial mengandung ambiguisitas yang besar. Perilaku dan pernyataan dapat memiliki mak-na yang banyak dan dapat dinterpretasikan dengan berbagai cara. (Newman, 2000: 72).Paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prose-dur yang baku;, setiap gejala atau peristiwa bisa jadi memiliki makna yang berbeda; ilmu bersifat induktif, berjalan dari yang sepesi-fik menuju ke yang umum dan abstrak. Ilmu bersifat idiografis, artinya ilmu mengungkap realitas melalui simbol-simbol dalam bentuk deskriptif. Pendekatan interpretif pada ak-hirnya melahirkan pendekatan kualitatif.

·        •Paradigma Kritis

Paradigma kritis lahir tidak lepas dari Institut penelitian sosial di Frankfurt (Insti-tut für Sozialforschung) didirikan pada ta-hun 1923 oleh seorang kapitalis yang berna-ma Herman Weil, seorang pedagang grosir gandum, yang pada akhir hayat “mencoba untuk cuci dosa” mau melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan di dunia (termasuk dalam skala mikro: penderitaan sosial dari kerakusan kapitalisme). Para-digma kritis adalah anak cabang pemiki-ran marxis dan sekaligus cabang marxisme yang paling jauh meninggalkan Karl Marx (Frankfurter Schule). Cara dan ciri pemiki-ran aliran Frankfurt disebut ciri teori kritik masyarakat “eine Kritische Theorie der Gesselschaft”. Paradigma ini mau menco-ba memperbaharui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Beberapa tokoh Teori Kritis angkatan pertama adalah Max Hork-heimer, Theodor Wiesengrund Adorno (musi-kus, ahli sastra, psikolog dan filsuf), Fried-rich Pollock (ekonom), Erich Fromm (ahli psikoanalisa Freud), Karl Wittfogel (sinolog), Leo Lowenthal (sosiolog), Walter Benjamin (kritikus sastra), Herbert Marcuse (murid Heidegger yang mencoba menggabungkan fenomenologi dan marxisme, yang juga selan-jutnya Marcuse menjadi “nabi” gerakan New Left di Amerika). Ciri khas paradigma Kritis adalah bahwa paradigma ini berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Pendekatan paradigma kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni.[2]

•ELEKTIF PARADIGMA

Sifat eklektif paradigma ini telah dilukiskan oleh Wilburn Scramm sebagai jalan simpang yang paling ramai dengan se gala disiplin yang melintasinya. Komunikasi yang multi makna dan multi definisi telah menyuguhkan cara pandang (frame) yang beragam pula, terutama dalam mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai suatu di siplin ilmu yang bersifat eklektif artinya menggabungkan beberapa disiplin (Nurhadi, 2015). Se jak semula para pakar acapkali mengkaji komunikasi manusia dengan menggunakan (secara terang terangan) konsep, teori dan model ilmu fisika, psikologi dan sosiologi, sejarah, bahasa, dan sebagainya. Tidak mengherankan bila hingga saat ini masih banyak kalangan luar yang meragukan komunikasi sebagai di siplin ilmu sendiri. Bahkan ada dari kalangan psikologi atau so siologi yang masih merasa komunikasi manusia sebagai bagian dari disiplinnya. Mereka kurang memahami bahwa kajian ko munikasi memang telah meminjam dari berbagai disiplin dan telah meracik dan mengolahnya sendiri menjadi suatu konsep atau teori sehingga sangat bersifat eklektif,

 

Dalam perkembangannya sebagai suatu bidang kajian yang eklektif, pengaruh disiplin lain terhadap ilmu komunikasi, teru tama ilmu fisika, psikologi dan sosiologi memang sangat besar dan sangat terasa. Hal ini, sekaligus telah melahirkan berbagai pendekatan dan wawasan yang saling berbeda baik dalam merumuskan definisi komunikasi maupun dalam penelitian atau pengkajian empirik. Perbedaan perbedaan itu pada akhirnya menumbuhkan dua hal yang sangat penting sebagai suatu fakta, yaitu lahirnya fraksi fraksi di kalangan ilmuwan komunikasi dan lahirnya berbagai paradigma atau perspektif dalam kajian komunikasi manusia.

 

Tak dapat disangkal bahwa para pakar ilmu komunikasi bukanlah kelompok yang bersatu pandangan dan wawasan mengenai konseptualisasi komunikasi sebagai suatu disiplin ilmiah. Artinya para pakar menghargai adanya perbedaan wawasan dan perbedaan paradigma atau perspektif yang satu dengan lainnya. Para pakar komunikasi merupakan kelompok yang mempunyai ikatan yang sangat “longgar”, dan malah di dalamnya terdapat fraksi fraksi dengan paradigma masing masing. Itulah sebabnya Feyerabend (1975) menyebut komunikasi sebagai ilmu yang di tandai oleh paradigma yang multi muka. Multi paradigma seperti ini, bukanlah hal yang khas komunikasi, karena hampir seluruh disiplin dalam ilmu sosial, berpara digma ganda. Hal ini, bukanlah suatu hal yang perlu disesalkan, tetapi sebaliknya merupakan kekuatan ilmu sosial yang mem bedakannya dengan ilmu alam.

 

Istilah paradigma berasal dari Thomas Kuhn (1970, 1974), yang digunakan tidak kurang dari 21 cara yang berbeda. Namun Robert Fredrichs (1970) berhasil merumuskan paradigma itu secara jelas sebagai “suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (sub jek matter) yang semestinya dipelajari”. Kuhn melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara ku mulatif, tetapi terjadi secara revolutif. Dalam masa tertentu ilmu sosial didominasi oleh suatu paradigma. Kemudian terjadi pergantian dominasi paradigma, dari paradigma lama yang memudar kepada paradigma baru. Dalam hal ini, paradigma baru bukanlah kelanjutan dari paradigma lama. Sosiologi misalnya dalam perkembangannya memiliki tiga paradigma yang berbe da satu dengan yang lain, yaitu paradigma (1) fakta sosial, (2) definisi sosial, dan (3) perilaku sosial.

 

Di tempat berbeda Guba menjelaskan paradigma sebagai “..@ set of basic belief (or metaphysid that diels with ultimits or first principle...a world view that defines, for its holder, at the nature of the world. Oleh karena itu, paradigma berperan vital dalam melihat setiap kajian atau penelitian. Sebab hal ini, ber kaitan dengan aspek filosofis dalam melihat kompleksitas feno mena.

 

Dilihat dari beberapa paradigma yang selama ini berkem bang, Eriyanto menjelaskan perjalanan paradigma dibagi men jadi tiga bagian, yaitu:

 

Pertama, Paradigma Positivisme empiris oleh penganut aliran ini bahasa dipandang sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Salah satu ciri dari paradigma ini adalah pemisahan antara pemikiran dengan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacana konsekuensi logis dari pemi kiran ini adalah orang tidak perlu mengetahui makna makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya sebab yang terpenting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara be nar menurut kaidah sintaksis dan semantik.

 

Kedua adalah Paradigma Konstruktivisme. Paradigma ini banyak dipengaruhi oleh pandangan fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Dalam pandangan paradigma ini bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai per nyataan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan hubungan sosialnya.

 

Ketiga adalah Paradigma Kritis. Paradigma ini hanya sebatas memenuhi kekurangan yang ada dalam paradigma konstruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Seper ti ditulis AS. Hikam, paradigma konstruktivisme masih belum menganalisa faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana yang pada gilirannya berperan sebagai pembentuk jenis-jenis subjek tertentu berikut perilaku perilakunya. Paradigma ini bersumber pada pemikiran Frankfurt School, yang berusaha mengkritisi pandangan konstruktivis. Ia bersumber dari gagasan Marx dan Hegel jauh sebelum sekolah Frankfurt berdiri. [3]



[1] http://ilkom.unida.gontor.ac.id/paradigma-komunikasi-politik/

[2] Muslim, VARIAN-VARIAN PARADIGMA, PENDEKATAN, METODE, DAN JENIS PENELITIAN DALAM ILMU KOMUNIWahana, Vol. 1, No. 10, Ganjil, Tahun Akademik 2015/2016EKATAN, https://www.google.com/url?q=https://journal.unpak.ac.id/index.php/wahana/article/download/654/557&sa=U&ved=2ahUKEwi7uqHg6K3xAhUU-nMBHdouDPMQFjALegQICxAB&usg=AOvVaw0Sq9WhlsmyTAN_AQlKpp_U.

[3] Zikri Fachrul Nurhadi, Teori komunikasi kontemporer, Prenada Media, 2017, hlm, 25-28.

Rabu, 16 Juni 2021

DIMENSI KOMUNIKASI

 DIMENSI- DIMENSI KOMUNIKASI

      Komunikasi menyangkut pesan-pesan yang dapat dibedakan berdasarkan penerima pesan dan fungsi pesan. Berdasarkan penerima pesan, komunikasi dapat dibedakan menjadi komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Bila dilihat dari fungsi pesan, komunikasi organisasi meliputi komunikasi formal dan komunikasi informal.

      Komunikasi sangat penting dalam sebuah organisasi, karena menyangkut penyampaian pesan antar individu dan kelompok mengenai pekerjaan dalam organisasi. Menurut Effendy (2006: 122-130) dimensi komunikasi dalam kehidupan organisasi terbagi menjadi komunikasi internal dan eksternal.

1) Komunikasi Internal

      Komunikasi internal dikenal dengan komunikasi instruktif, kontrol dan koordinatif yang integratif dan direktif ke arah tujuan. Dimensi komunikasi internal terdiri dari komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Komunikasi vertikal yakni komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan komunikasi ke atas (upward communication) adalah komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal-balik.Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, penjelasan-penjelasan kepada bawahannya. Bawahan memberikan saran-saran, pengaduan kepada pemimpin.

      Komunikasi horizontal ialah komunikasi secara mendatar, antar anggota dengan anggota. Berbeda dengan komunikasi vertikal yang sifatnya lebih formal, komunikasi horizontal seringkali berlangusng tidak formal. Jenis komunikasi internal meliputi berbagai cara yang dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis, yakni:

- Komunikasi persona

- Komunikasi kelompok

(1) Komunikasi persona

Komunikasi persona ialah komunikasi antara dua orang dan Dapat berulang dengan dua cara: komunikasi tatap muka dan Komunikasi bermedia.

(2) Komunikasi kelompok

Komunikasi kelompok ialah komunikasi secara seseorang Dengan sekelompok orang dalam situasi tatap muka, Komunikasi kelompok bisa dengan kelompok kecil dan Kelompok besar.

2) Komunikasi Eksternal

      Komunikasi eksternal ialah komunikasi antara pimpinan Organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Komunikasi eksternal Disebut juga dengan komunikasi adaptif dan kontrol terhadap Lingkungan demi kelangsungan hidup organsiasi. Komunikasi Eksternal terdiri atas dua jalur secara timbal balik, yakni komunikasi Dari organisasi kepada khalayak dan dari khalayak kepada organisasi.

a) Komunikasi dari organisasi kepada khalayak

      Komunikasi dari organisasi kepada khalayak pada umumnya Bersifat informatif, sehingga khalayak merasa memiliki Keterlibatan. Komunikasi organisasi kepada khalayak dapat Melalui berbagai bentuk seperti, artikel surat kabar atau Majalah, pidato, brosur, poster, konferensi pers, dll. Pada zaman modern ini media massa memegang peranan penting dalam menyebarkan informasi untuk melancarkan komunikasi eksternal.

b) Komunikasi dari khalayak kepada organisasi

      Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan Balik sebagai efek dari kegiatan komunikasi yang dilakukan Oleh organisasi.

Komunikasi multi-Kultural dalam interpretasi yang Berbeda sebagai suatu proses Komunikasi simbolik, interpretatif, Transaksional, kontekstual yang Dilakukan oleh sejumlah orang Karena memiliki perbedaan derajat Kepentingan tertentu, memberikan Pengertian dan harapan secara Berbeda terhadap apa yang Disampaikan dalam bentuk perilaku Tertentu sebagai makna yang Dipertukarkan.

Dinamika komunikasi sosial Dalam lingkup multikultural berporos Pada kesepahaman anggota Masyarakat. Kesepakatn bersama Dapat dijalin di antaranya melalui Pemanfaatan ruang publik dalam Musyawarah sosial. Ruang publik Dikenal juga dengan istilah public Sphere yang ditulis pertama kali pada 1962 dalam bahasa jerman Oeffentlichkeit oleh Jurgen Habermas. Ruang publik tersebut Pada dasarnya merupakan ruang Yang tercipta dari kumpulan orang Orang tertentu dalam konteks sebagai kalangan borjuis yang diciptakan seolah olah sebagai bentuk penyikapan terhadap otoritas publik. Jadi istilah ini dibentuk Habermas sebagai mediasi seluruh laipsan masyarakat dalam menjalin diskusi termasuk dalam mengatasi berbagai masalah atau isu yang sedang terjadi ditengah masyarakat.

      Perkembangan Ruang Publik Pada masa itu tidak luput dari Adanya pertumbuhan literasi dan Seni sastra yang kemudian Berkembang menjadi sebuah Perlawanan yang ada pada Kenegaraan demi kemaslahatan yang Merupakan permasalahan politik. Dengan hadirnya kedai-kedai kopi Tersebut yang menajadi tempat Perkempulan sehingga terciptanya Jalan keluar dari isu-isu di negara Tersebut dpat dipisahkan. Hal ini Menunjukkan bahwa dibutuhkannya Ruang untuk berkumpul, berawal Sekedar tempat persinggahan berupa Kedai-kedai kopi yang biasanya Ditempati oleh penggiat sastra Kemuudian menjadi tempat perkumpulan bagi banyak ornag sehingga ditempat itulah tempat pemisah antara berbagai kelas-kelas sosial atau stratifikasi sosial tepecahkan, kemudian berubah menjadi tempatyang aman bagi mereka untuk mendiskusikan permaslahan kenegaraan Eropa yang absolut pada masa itu. Perkumpulan dari sekelompok orang yang berasal dari kelas sosial berbeda dengan mendiskusikan persoalan politik tentunya secara tidak langsung merupakan gambaran terjalinnya komunikasi antar budaya pada ruang publik dalam hal ini kedai-kedai kopi yang ada pada masa itu.

DAFTAR PUSTAKA

  Widiyastuti, Widyantoro, DIMENSI-DIMENSI KOMUNIKASI ORGANISASI PADA FORUM PENGEMBANGAN KAMPOENG BATIK LAWEYAN, Universitas Sebelas Maret Surakarta 2018, hlm, 9-11.

   Rulli Nasrullah, “Internet Dan Ruang Publik Virtual, Sebuah Refleksi atas Teori Ruang Publik Habermas”, Jurnal Komunikator, Vol.4 No. 1 (2012) hlm. 35.

  Andri Kurniawan, Nibrasatul Yumna, Erna Tantri, Resistensi Ruang Publik di Tengah Covid-19 Perspektif Islam dan Komunikasi Multikultural, Komunike 12 (1), 24-40, 2020, https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/komunike/article/view/2253.


Rabu, 02 Juni 2021

KOMUNIKASI MULTIDISIPLIN

 KOMUNIKASI SEBAGAI ILMU YANG MULTIDISIPLINER

Multidisiplin atau multidisipliner mengacu pada tim dimana sejumlah orang atau individu dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam suatu proyek namun masing-masing individu bekerja secara mandiri. Setiap individu dalam tim multidisiplin memiliki keterampilan dan keahlian yang berbeda namun saling melengkapi satu sama lain. Pengalaman yang dimiliki masing-masing individu memberikan kontribusi yang besar bagi keseluruhan upaya yang dilakukan.

Komunikasi multidisiplin adalah kombinasi dari berbagai disiplin ilmu berbagai disiplin ilmu dalam tugas tidak harus bekerja secara terkoordinasi, dimana dalam pemecahan masalah suatu masalah menggunakan berbagai sudut pandang yang relevan penggabungan beberapa disiplin untuk untuk bersamasama mengatasi masalah tertentu. Komunikasi sangat luas dan beraneka ragam. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang tidak lepas dari komunikasi. Berbagai dimensi selalu hadir dalam kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia ada, komunikasi dipastikan selalu hadir baik secara perorangan, kelompok, bangsa maupun umat manusia sepanjang hidup di muka bumi.

Pentingnya komunikasi dapat dilihat dari pengembangan ilmu komunikasi itu sendiri, di mana sebagai ilmu yang multidisiplin. Sebagai ilmu yang bisa diterapkan dalam hayati bermasyarakat, komunikasi telah lama menarik perhatian para ilmuwan dari luar bidang komunikasi sendiri. Mereka umumnya ialah ahli yang punya nama dalam bidangnya, kemudian tertarik mempelajari aspek-aspek komunikasi.

Hasil studi yang mereka lakukan, selain mendukung bidang kepakarannya, juga telah memberi sumbangan yang tak kecil terhadap kelahiran ilmu komunikasi sebagai kajian ilmiah. Sebelumnya, komunikasi dalam proses pertumbuhannya merupakan studi retorika dan jurnalistik yang banyak berkaitan dengan pembentukan pendapat umum. Oleh sebab itu, dalam peta ilmu pengetahuan, komunikasi dinilao oleh banyak pihak sebagai ilmu yang monodisiplin yang berinduk pada ilmu politik.

Dengan kemajuan seperti ini, ilmu komunikasi yang tadinya hanya dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan ilmu sosial politik, tumbuh dan diajarkan hampir disemua disiplin ilmu, apakah itu kedokteran, ekonomi, pertanian, hukum, dan ilmu-ilmu sosial itu sendiri.

Dengan realita seperti ini, ilmu komunikasi makin disadari bukan lagi sebagai ilmu yang monodisiplin yang berinduk pada ilmu politik, namun cenderung makin diakui sebagai ilmu yang multidisiplin yang terbuka dan dibina banyak disiplin ilmu. Oleh sebab itu pula, terdapat banyak definisi komunikasi yang dibuat oleh para ahli yang memiliki latar belakang keahlian yang berbeda satu sama lain, namun perbedaan makna ilmu komunikasi itu tetap fokus pada hubungan antarmanusia dalam konteks pertukaran pesan yang memiliki makna.

   Ciri-Ciri Komunikasi Multidisplin

1. Setiap bagian ikut peran cukup besar,melakukan perencanaan pengelolan bersama

2. Setiap beraktivitas berdasarkan batasan ilmunya.

3. Konseptual dan operasional & terpisah –pisah dalam pelayanan kesehatan, berbagai bidang ilmu berupaya mengintegrasikan pelayanan untuk kepentingan pasien.namun setiap disiplin membatasi diri secara tegas.

Menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya di bagi mejadi 3 kelompok atau aliran pendekatan-pendekatan humanistik (humaniora interpretif) serta penekatan sciencific (ilmu-ilmu sosial). Aliran pendekatan scientific umumnya berlaku di kalangan jpara ahli ilmu-ilmu eksakta, seperti 4 fisika, biologi, kedokteran, keperawtan, farmasi, matematika dan lain-lain. Menurut pandangan yang dimaksudkan di sini adalah objektifitas yang menekankan prinsip standarisasi observasi dan konsisten. Landasan filosofinya adalah bahwa dunia ini pada dasarnmya mempunyai bentuk dan struktur.

Definisi komunikasi

Kata atau istilah “komunikasi” (Bahasa Inggris “communication”) berasal dari Bahasa Latin “communicatus” atau communicatio atau communicare yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan demikian, kata komunikasi menurut kamus bahasa mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan.

Menurut Webster New Collogiate Dictionary komunikasi adalah “suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku”.

Bebarapa definsi tentang komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :

a. Carl Hovland, Janis & Kelley

Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak.

b. Bernard Berelson & Gary A.Steiner

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka, dan lain-lain.

c. Harold Lasswell

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa” “mengatakan “apa” “dengan saluran apa”, “kepada siapa” , dan “dengan akibat apa” atau “hasil apa”. (who says what in which channel to whom and with what effect).

d. Barnlund

Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.

e. Weaver

Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.

f. Gode

Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula yang dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.

Dari berbagai definsi tentang ilmu komunikasi tersebut di atas, terlihat bahwa para ahli memberikan definisinya sesuai dengan sudut pandangnya dalam melihat komunikasi. Masing-masing memberikan penekayang arti, ruang lingkup, dan konteks yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa, ilmu komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial adalah suatu ilmu yang bersifat multi-disipliner.

Komunikasi sebagai Ilmu yang Multidisipliner

Komunikasi meliputi pemahaman tentang bagaimana orang berperilaku dalam menciptakan pesan. Karena itulah, penelitian komunikasi mengkombinasikan metode ilmiah dan sastra. Komunikasi sebagai ilmu sosial memang amat bervariasi dari yang menggunakan unsur unsur ilmiah hingga kesusastraan. Secara tradisional teori teori kesusastraan tentang komunikasi dikenal sebagai teori retorika. Sedangkan pemahaman teori teori ilmiah merupakan teori komunikasi. Pemisahan seperti ini seharusnya tidah perlu ada karena komunikasi merupakan ilmu yang bersifat multidisipliner, komunikasi sendiri sudah mencakup baik itu metode sastra maupun metode ilmiah, keduanya sama sama di perhitungkan di dunia ilmu pengetahuan tentang komunikasi.

ilmu Komunikasi adalah salah satu ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner. Itu terjadi karena ilmu komunikasi berkembang melalui beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan yang dipergunakan yang mempengaruhi peta ilmu komunikasi, berasal dari berbagai disiplin ilmu lain seperti psikologi, politik, filsafat, antropologi, sosiologi, elektronika dan lain sebagainya. Sifat kemultidisiplinan ini tidak dapat dihindari karena objek pengamatan dalam ilmu komunikasi sangat luas dan kompleks, menyangkut berbagai aspek social, budaya, budaya, ekonomi dan politik dari kehidupan manusia.

Berikut pemaparan konsep dan ruang lingkup ilmu komunikasi ditinjau dari beberapa aspek, sebagai berikut :

Lingkup Ilmu Komunikasi Ditinjau Dari Beberapa Aspek

a. Komunikasi dari perspektif Filsafat Komunikasi filsafat menurut para ahli

a) Richard Lanigan

Didalam karyanya yang berjudul “Communication Models in Philosophy, Review and Commentary” membahas secara khusus “analisis filsafati mengenai komunikasi”. Richard Lanigan mengatakan ; bahwa filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi sub-bidang utama menurut jenis justifikasinya yang dapat diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

1. Apa yang aku ketahui ? (What do I know ?)

2. Bagaimana aku mengetahuinya ? (How do I know it ?)

3. Apakah aku yakin ? (Am I sure ?)

4. Apakah aku benar ? (Am I right ?)

Pertanyaan-pertanyaan di atas berkaitan dengan penyelidikan sistematis studi terhadap : Metafisika, Epistemologi, Aksiologi dan Logika.

b) Prof. Onong Ucahana Efendy, MA

Menurut Prof. Onong Ucahana Efendy, Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin ilmu yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analisis, kritis, dan holistis tentang teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatayangnya,tujuannya, fungsinya, teknik dan perannya.

c) Fisher

Filosofis ilmu komunikasi menurut Fisher (1986:17) adalah ilmu yang mencakup segala aspek dan bersifat eklektif yang digambarkan oleh Wilbur Schramm (1963:2) sabagai jalan simpang yang ramai, semua disiplin ilmu melintasinya.

d) Rosengreen

Menurut Rosengreen (1983), setidaknya ada tiga paradigma besar yang melatar belakangi perkembangan teori dan penelitian studi komunikasi, antara lain :

1. Paradigma klasik

Paradigma klasik percaya bahwa realitas yang ada di lingkungan sekitar sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa.

2. Paradigma kritis

Paradigma kritis dalam meyanggkap suatu hal tidak hanya mau menjelaskan,melainkan juga akan mempertimbangkan, merefleksikan, menata realitas sosial dan berfikir kritis berdasarkan teori-teori yang telah ada.

3. Paradigma konstruktifis

Paradigma konsruktifis adalah penjelasan paling sesuai untuk menghuraikan fenomena yang diperhatikan.

e) Laurie Ouellette Chair & Amit Pinchevski

Menurut Laurie Ouellette Chair dan Amit Pinchevski, Filsafat Komunikasi secara luas peduli dengan masalah teoritis,analitis,dan politik yang melintasi batas-batas yang terjadi begitu saja untuk di analisa dalam studi komunikasi.

Filsafat melandasi ilmu komunikasi dari domain ethos, pathos, dan logos dari teori Aristoteles dan Plato. Ethos merupakan komponen filsafat yang mengajarkan ilmuwan tentang pentingnya rambu-rambu normative dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama bagi hubungan antara ilmu dan masyarakat. Pathos merupakan komponen filsafat yang menyangkut aspek emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang seyangtiasa mencintai keindahan, penghargaan, yang dengan ini manusia berpeluang untuk melakukan improvisasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Logos merupakan komponen filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pada pemikiran yang bersifat nalar dan rasional, yang dicirikan oleh argument-argumen yang logis. Komponen yang lain dari filsafat adalah komponen piker, yang terdiri dari etika, logika, dan estetika, Komponen ini bersinegri dengan aspek kajian ontologi (keapaan), epistemologi (kebagaimanaan), dan aksiologi (kegunaan atau kemanfaatan).

Manusia sebagai mahluk sosial akan selalu berhubungan dengan manusia lain melalui komunikasi. Retorika sebagai ilmu mengenai pernyataan antar manusia diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles. Gagasan awal mengenai pernyataan antarmanusia dinyatakan dalam model sederhana, yaitu komunikator, pesan, dan komunikan. Perkembangan selanjutnya menjadi ilmu komunikasi dengan model yang lebih rumit, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek.

Mempelajari komunikasi sebagai ilmu akan menjadi dasar bagi seseorang untuk memahami komunikasi dari tinjauan filsafati. Mengerti filsafat ilmu komunikasi akan mempermudah seseorang dalam menyusun pikirannya sebagai isi pesan komunikasi. Isi pesan yang tersusun secara logis, etis dan estetis merupakan usaha agar proses komunikasi efektif.

b. Komunikasi dari perspektif Psikologi

Ruang lingkup dan sistematika pengajaran psikologi komunikasi adalah :

a) Sistem komunikasi intrapersonal

b) Sistem komuniksi interpersonal

c) Sistem komunikasi kelompok

d) Sistem komunikasi Massa

Dalam sistem komunikasi intrapersonal, antara lain membahas tentang karakteristik manusia komunikan, factor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya, sistem memori dan berpikir, dan sifat-sifat psikologi komunikator.

Dalam sistem komunikasi interpersonal, antara lain dibahas tentang proses persepsi interpersonal, faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhi persepsi interpersonal, konsep diri, atraksi interpersonal, dan hubungan interpersonal.

Dalam sistem komunikasi kelompok, antara lain dibahas tentang jenis-jenis kelompok dan pengaruhnya pada perilaku komunikasi, factor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok, dan bentuk-bentuk komunikasi kelompok. Dalam komunikasi massa, antara lain dibahas tentang motivasi atau factor-faktor yang mempengaruhi reaksi individu terhadap media massa, efek komunikasi massa, dan karakteristik isi pesan media massa.

Komunikasi Intrapersonal

Dalam buku Trans–Per Understanding Human Communication, 1975, disebutkan bahwa komunikasi intrapersonal adalah proses di mana individu menciptakan pengertian. Di lain pihak Ronald L. Applbaum dalam buku Fundamental Concept in Human Communication mendefinisikan komunikasi intrapersonal sebagai Komunikasi yang berlangsung dalam diri kita, ia meliputi kegiatan berbicara kepada diri sendiri dan kegiatan-kegiatan mengamati dan memberikan makna (intelektual dan emosional) kepada lingkungan kita (Uchayana 1993).

Dari berbagai definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa, komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang itu berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan, dia berbicara pada dirinya sendiri, dia berdialog dengan dirinya sendiri, dia bertanya kepada dirinya sendiri, dan dijawab oleh dirinya sendiri.

Apabila seseorang mampu berdialog dengan diri sendiri berarti ia mampu mengenal diri sendiri. Adalah penting bagi kita untuk bisa mengenal diri sendiri sehingga kita dapat berfungsi secara bebas di masyarakat. Belajar mengenal diri sendiri berarti belajar bagaimana kita berpikir, berasa, dan bagaimana kita mengamati, menginterpretasikan, dan mereaksi lingkungan kita. Oleh karena itu untuk mengenal diri pribadi, kita harus memahami dengan baik komunikasi intrapersonal.

Sistem Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapersonal tidaklah terjadi begitu saja, melainkan melalui proses tertentu yang pada akhirnya menimbulkan kesimpulan dalam diri seseorang. Proses berlangsungnya komunikasi dalam diri seseorang diterjemahkan dalam satu sistem komunikasi yang dikenal dengan sistem komunikasi intrapersonal. Stanley B. Cunningham dalam tulisannya “Intrapersonal Communication, A Review and Critique” menyebut proses komunikasi intrapersonal yang terjadi pada diri seseorang akan berlangsung sebagai berikut:

1. Berbicara pada diri sendiri

Terjadi komunikasi dalam diri sendiri atau terjadi percakapan dengan diri sendiri.

2. Terjadi dialog

Dialog merupakan satu proses pertukaran pesan dan pemrosesan makna dalam diri manusia antara I dan Me. I mewakili bagian diri pribadi manusia itu sendiri, sedangkan Me mewakili produk sosial (pengamatan).

3. Jalannya proses tersebut berdasarkan perundingan manusia dengan lingkungannya atau terjadi adaptasi dengan lingkungan. Di sini terjadi proses menggunakan stimuli (rangsangan) dari dan dalam diri kita.

4. Persepsi

Individu menerima, menyimpan, dan menggambarkan secara ringkas simbol.

5. Proses saling mempengaruhi antara “raw data” persepsi dan diberi pengertian. Data mentah dari persepsi diproses untuk dimengerti.

6. Proses data Merupakan fungsi penggambaran secara baik dari point 4 dan 5.

7. Feed back

Terjadinya umpan balik, dan ini sangat tergantung dari point 3 dan 6.

c. Komunikasi dari perspektif Antropologi

Antropologi dikatakan sebagai salah satu akar atau landasan lahirnya ilmu komunikasi. Seiring dengan perkembangan antropolgi tersebutlah akhirnya para ahli budaya melihat jika dalam budaya juga sangat tergantung pada komunikasi. Hal inilah yang kemudian dikaji mengenai proses dari komunikasi tersebut sehingga lahirlah ilmu komunikasi dari antroplogi. Namun untuk lebih jelasnya mengenai keterkaitan tersebut sebaiknya kita terlebih dahulu melihat menganai antopologi dan komunikasi itu sendiri.

Setiap praktik komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya, atau tepatnya suatu peta atas suatu relitas (budaya) yang sangat rumit. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas tak terpisahkan, sebagaimana dikatakan Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Begitu kita mulai berbicara tentang komunikasi, tak terhindarkan, kita pun berbicara tentang budaya (Deddy Mulyana, 2004 :14).

Budaya dan komunikasi berinteraksi secara erat dan dinamis. Inti budaya adalah komunikasi. Karena budaya muncul melalui komunikasi. Akan tetapi pada gilirannya budaya yang tercipta pun mempengaruhi cara berkomunikasi anggota budaya yang bersangkutan. Hubungan antara budaya dan komunikasi adalah timbal balik. Budaya takkan eksis tanpa komunikasi dan komunikasi pun takkan eksis tanpa budaya. Entitas yang satu takkan berubah tanpa perubahan entitas lainnya. Menurut Alfred G. Smith, budaya adalah kode yang kita pelajari bersama dan untuk itu dibutuhkan komunikasi. Komunikasi membutuhkan perkodean dan simbol-simbol yang harus dipelajari. Godwin C. Chu mengatakan bahawa setiap pola budaya dan tindakan melibatkan komunikasi. Untuk dipahami, keduanya harus dipelajari bersama-sama. Budaya takkan dapat dipahami tanpa mempelajari komunikasi, dan komunikasi hanya dapat dipahami dengan memahami budaya yang mendukungnya (Deddy Mulyana, 2004: 14).

Konsep antara Antropologi dan komunikasi. Beberapa bidang konsep antropologi budaya yang dikaji yang sangat relavan dengan komunikasi yaitu;

a) Objek simbol, umpamanya bendara melambangkan bangsa dan uang menggambarkan pekerjaan dan barang-barang dagangan (komoditi).

b) Karakteristik objek dalam kultur manusia. Contoh warna unggu dipahami untuk “kerajaan”, hitam untuk “duka cita” warna kuning untuk “kekecutan hati”, putih untuk untuk “kesucian”, merah untuk “keberanian”

c) Gesture dimana tindakan yang memiliki makna simbolis, senyuman dan kedipan, lambaian tangan, kerutan kening, masing-masing memiliki makna tersendiri dan semuanya memiliki makna dalam konteks cultural.

d) Simbol adalah jarak yang luas dari pembicaraan dan kata-kata yang tertulis dalam meyusun bahasa. Bahasa adalah kumpulan simbol paling penting dalam kultur.

Gatewood menjawab bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusian itu sangat banyak, dan hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Artinya kalau komunikasi itu merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang membudaya, maka komunikasi adalah sarana bagi transmisi kebudayan, oleh karena itu kebudayaan itu sendiri merupakan komunikasi.

Proses komunikasi dalam persebaran budaya

Budaya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Masyarakat terbentuk dari nilai norma yang mengatur mereka. Manusia merupakan homostatis di mana komunikasi membentuk kebudayaan dan juga bagian dari kebuadayaan itu sendiri. Dalam kehidupan budaya masyarakat dan intekasi menyebabkan maka terjadinya proses komunikasi yang menjadi alat bantu atau guna membantu mereka dalam berinteraksi dengan baik. Bahasa yang merupakan alat komunikasi juga sangat dipengaruhi oleh proses budaya.

Dengan adanya kesamaan mengenai memaknai sesuatu tersebutlah sehingga membentuk suatu kebudayaan yang lebih baik dalam interkasi. Pengaruh komunikasi yang disebabkan oleh budaya ini pulalah yang menjadikan perbedaan pemaknaan dari setiap budaya masyarakat dalam berkomunikasi.

Jadi, antropologi merupakan ilmu yang lebih dahulu ada dalam memahami perkembangan interaksi manusia, kemudian antropologi ini terus berkembang sehingga mulai melihat dan mengkaji pada prose komunikasi yang tercipta. Inilah yang kemudian menjadikan antropologi menjadi salah satu landasan sehingga lahirnya ilmu komunikasi.

d. Komunikasi dari perspektif Sosiologi

Pengertian Sosiologi Komunikasi

Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti masyarakat, dan kata Logos yang berarti ilmu. Dalam kamus, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Ilmu Sosiologi muncul bersamaan dengan ilmu psikologi pada abad 19, dimana ilmu sosiologi merupakan perkembangan dari ilmu filsafat social. Istilah sosiologi dipopulerkan oleh Hebert Spencer lewat bukunya berjudul Principles of Sociology, ciri-ciri utamanya adalah bersifat empiris, kumulatif, dan non etis

Ruang lingkup sosiologi komunikasi

Adapun ruang lingkup kajian sosiologi komunikasi adalah gejala, pengaruh dan masalah sosial yang disebabkan oleh komunikasi. Sosiologi mempelajari komunikasi dalam konteks interaksi sosial dalam masyarakat, baik yang berhubungan dengan media secara langsung dan tidak langsung.

Tujuan dari sosiologi komunikasi adalah dapat mengetahui pengaruh faktor sosial dalam komunikasi serta dapat memahami keadaan sosiologi yang timbul dalam komunikasi atau mempunyai aspek komunikasi.

Ruang Lingkup dan Konsep Sosiologi Komunikasi

Menurut Bungin (2006 : 27-31), sosiologi komunikasi terdiri dari 3 konsep yang sekaligus menjadi ruang lingkup sosiologi komunikasi. Ke-tiga konsep tersebut yakni sosiologi, masyarakat, dan teknologi komunikasi media/informasi.

a). Sosiologi

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial termasuk di dalamnya berbagai aktifitas atau gejala sosial yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan sosial.

b). Masyarakat

Masyarakat merupakan salah satu ruang lingkup dari sosiologi komunikasi. Artinya bahwa masyarakat merupakan salah satu yang dibahas dalam sosiologi komunikasi. Jadi masyarakat itu terdiri dari kumpulan orang-orang yang hidup berdampingan (hidup bersama) dalam suatu wilayah dan terikat oleh aturan-aturan atau norma-norma sosial yang mereka tentukan dan taati.

c). Teknologi Komunikasi media/informasi

Teknologi komunikasi merupakan ruang lingkup ketiga dari sosiologi komunikasi. Menurut Alter (Bungin, 2006 : 30), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti meyanggkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data. Sedangkan menurut Martin (Bungin, 2006 : 30) mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Berdasarkan definisi tersebut di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa teknologi komunikasi berhubungan erat dengan perangkat keras dan lunak yang dapat digunakan untuk memproses dan mengirimkan informasi

e. Komunikasi dari perspektif politik

Lasswell (dalam Varma, 1995:258) memandang orientasi komunikasi politik telah menjadikan dua hal sangat jelas: pertama, bahwa komunikasi politik selalu berorientasi pada nilai atau berusaha mencapai tujuan; nilai-nilai dan tujuan itu sendiri dibentuk di dalam dan oleh proses perilaku yang sesungguhnya merupakan suatu bagian; dan kedua, bahwa komunikai politik bertujuan menjangkau masa depan dan bersifat mengantisipasi serta berhubungan dengan masa lampau dan senantiasa memperhatikan kejadian masa lalu.

Dalam hal ini, R.S. Sigel (dalam Sumarno, 1989:10) memberikan pandangan sebagai berikut: “Political socialization refers to the learning process, by which the political norms and behavior acceptable to an ongoing political system are transmitted from generation to generation.”

Komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini, dapat mengikat semua warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga politik (Astrid, S. Soesanto, 1980:2).

Jadi definisi komunikasi politik berdasarkan pandangan politik (klasik, kekuasaan, kelembagaan, fungsionalis, atau konflik) yakni proses komunikasi yang menyangkut interaksi pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama bagi masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

Dilihat dari tujuan politik “an sich”, maka hakikat komunikasi politik adalah upaya kelompok manusia yang mempunyai orientasi pemikiran politik atau ideology tertentu dalam rangka menguasai dan atau memperoleh kekuasaan, dengan kekuatan dimana tujuan pemikiran politik dan ideology tersebut dapat diwujudkan.

Dengan demikian segala pola pemikiran, ide atau upaya untuk mencapai pengaruh, hanya dengan komunikasi dapat tercapainya segala sesuatu yang diharapkan, karena pada hakikatnya segala pikiran atau ide dan kebijakan (policy) harus ada yang menyampaikan dan ada yang menerimanya, proses tersebut adalah proses komunikasi.

Saluran Komunikasi Politik

a). Komunikasi Massa – komunikasi ‘satu-kepada-banyak’, komunikasi melalui media massa.

b). Komunikasi Tatap Muka–dalam rapat umum, konferensi pers, dan Komunikasi Berperantara–ada perantara antara komunikator dan khalayak seperti TV.

c). Komunikasi Interpersonal – komunikasi ‘satu-kepada-satu’, door to door visit, temui publik, atau Komunikasi Berperantara : pasang sambungan langsung ’hotline’ buat publik.

d). Komunikasi Organisasi – gabungan komunikasi ‘satu-kepada-satu’ dan ‘satu-kepada-banyak’, Komunikasi Tatap Muka contoh diskusi tatap muka dengan bawahan/staf, dll. Dan Komunikasi Berperantara contoh pengedaran memorandum, sidang, konvensi, buletin, newsletter, lokakarya, dll.

f. Komunikasi dari perspektif Elektronika

Teknologi dalam Ilmu Komunikasi

Dilihat dari perkembangannya, ilmu komunikasi dikelompokkan pada ilmu sosial dan merupakan ilmu terapan (applied science). Pada awalnya ilmu komunikasi berasal dari jurnalistik atau jurnalisme yaitu suatu pengetahuan tentang seluk beluk pemberitaan mulai dari peliputan bahan berita, melalui pengolahan, sampai penyebaran berita (Onong,1993;12). Sejarah itu berawal dari School of Journalism,sebuah lembaga pendidikan yang memiliki visi untuk meningkatkan pengetahuan para wartawan dan calon wartawan. Berawal dari kegiatan tersebut jurnalisme berkembang menjadi “mass media communication” atau “mass communication “ ( komunikasi massa).

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa kenyataannya dalam proses komunikasi secara total, komunikasi melalui media massa hanya merupakan satu dimensi saja. Ada dimensi-dimensi lainnya yang menjadi objek studi suatu ilmu dan berawal dari pemikiran tersebut akhirnya muncullah Communication Science atau Ilmu Komunikasi yang sekarang ini.

Jadi ilmu komunikasi yang sekarang ini adalah ilmu yang mempelajari, menelaah dan meneliti kegiatan-kegiatan komunikasi manusia yang luas ruang lingkupnya dan banyak dimensinya.

Pada batasan di atas disinggung bahwa dalam teknologi atau teknik terkandung totalitas metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap aktivitas manusia.

Pada ruang lingkup komunikasi yang begitu luas, Onong mengklasifikasi bahwa Metode komunikasi meliputi kegiatan-kegiatan komunikasi Jurnalistik, Public Relations, Periklayang, Propaganda, Perang urat syaraf (psychological welfare), dan lain-lain.

Jika dikatakan bahwa teknologi merupakan totalitas metode maka jabaran dari teknologi dalam komunikasi adalah semua hal yang ada pada bidang-bidang tersebut. Sebagai contoh kita akan lihat pada Public Relations sebagai metode komunikasi dan dapat dikatakan bahwa PR adalah salah satu teknologi dari ilmu komunikasi .

Public Relations sebagai teknologi, jika kita melihat Public Relations dari segala unsur yang membentuk atau menyusun metode tersebut, misalnya peran, proses,strategi, taktik dan segala penerapan/aktifitas yang ada pada bidang Public Relations, adalah sebagai berikut:

Peran dalam PR meliputi apa itu PR, bagaimana perkembangannya, Pengembangan Etika Profesinya, Peran Individu sebagai PR, dll.

a. Proses PR meliputi riset sampai evaluasi.

b. Strategi dan Taktik; Strategy meliputi Opini Publik, Pengenalan Khalayak, dll. Taktik meliputi Teknologi –teknologi Baru (elektronik), Penulisan, Kemampuan berbicara dan Visual.

c. Penerapan; Penerapan/Aktifitas PR seperti Media Relations, Government Relations, Community Relations, dll .

Kesemuanya itu juga merupakan bagian dari teknologi yang berkembang di ilmu komunikasi, sebagai bagian dari Public Relations, dan dikembangkan seluas-luasnya untuk menunjang setiap aktivitas manusia.

Perkembangan Teknologi Baru dalam Komunikasi

Point ini tidak akan terlalu banyak kita bahas, hanya sekedar merunut kembali mengapa dalam ilmu komunikasi kita mempelajari teknologi baru (“The New Technology”) Sejalan dengan sejarah perkembangan kemampuan berpikir manusia maka manusia lalu menciptakan alat-alat bantu. Alat-alat bantu tersebut berkembang begitu pesat, mulai yang bersifat mekanistis pada abad 18 maupun elektronika pada awal abad 19. Rogers dalam bukunya Comunnication Technology mengatakan bahwa kunci dasar teknologi komunikasi baru adalah elektronik. Dan teknologi baru tersebut dapat kita sebut dengan media baru. Media sebagai saluran komunikasi dari sudut pandang komunikator (pengirim pesan) terbagi menjadi saluran komunikasi tanpa media dan saluran komunikasi bermedia.

Saluran komunikasi bermedia terbagi lagi menjadi non media massa dan media massa The New Technologies atau the New Media ini membahas masalah perkembangan teknologi baru di bidang tulis, cetak, telekomunikasi, komunikasi interaktif, videotext dan teletext, dll.

KESIMPULAN

Komunikasi multidisiplin adalah kombinasi dari berbagai disiplin ilmu berbagai disiplin ilmu dalam tugas tidak harus bekerja secara terkoordinasi, dimana dalam pemecahan masalah suatu masalah menggunakan berbagai sudut pandang yang relevan penggabungan beberapa disiplin untuk untuk bersama-sama mengatasi masalah tertentu. Para ahli memberikan definisi komunikasi sesuai dengan sudut pandangnya tersendiri. Masing-masing memberikan penekanan terhadap arti, ruang lingkup, dan konteks yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa, ilmu komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial adalah suatu ilmu yang bersifat multi-disipliner.

ilmu Komunikasi adalah salah satu ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner. Itu terjadi karena ilmu komunikasi berkembang melalui beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan yang dipergunakan yang mempengaruhi peta ilmu komunikasi, berasal dari berbagai disiplin ilmu lain seperti psikologi, politik, filsafat, antropologi, sosiologi, elektronika dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Madoni, Abri, ‘Komunikasi Dalam Pelayanan Kesehatan Khususnya Komunikasi Multidisplin.Pptx – Free Download PDF’ https://kupdf.net/download/komunikasi-dalam-pelayanan-kesehatan-khususnya-komunikasi-multidisplinpptx_5c56c9c2e2b6f52113126f1c_pdf#modals [accessed 29 May 2021]

Nikmah, Salisah, ‘Komunikasi Kesehatan | Jurnal Ilmu Komunikasi’ http://jurnalfdk.uinsby.ac.id/index.php/JIK/article/view/104 [accessed 29 May 2021]

Panuju, Redi, Pengantar Studi (Ilmu) Komunikasi: Komunikasi Sebagai Kegiatan Komunikasi Sebagai Ilmu (Kencana, 2018)

http://t-wul.blogspot.com/2015/06/komunikasi-sebagai-ilmu-yang.html#.YLdmSPkzbDc

https://kupdf.net/queue/komunikasi-multidisiplin_5bb1e252e2b6f5d975ffc808_pdf?queue_id=-1&x=1554823590&z=MzYuODQuNjQuMTEx. Jurnal.KUPDF.Net


TEKNIK BERFIKIR KRITIS - M ULUL AZMI

A. LATAR BELAKANG Menurut Ennis berpikir kritis adalah berpikir logis dan reflektif yang difokuskan pada pengambilan keputusan yang akan dip...