Senin, 28 Juni 2021

PARADIGMA KOMUNIKASI

PARADIGMA KOMUNIKASI



Paradigma adalah sudu pandang terhadap sesuatu, dalam ilmu komunikasi paradigma ilmunya berkembang sangat pesat. Selain komunikasi sebagai ilmu sosial yang terus berkembang, paradigma yang mempengaruhinya ikut berkembang secara revolusioner. Paradigma lama dan baru saling mempengaruhi membentuk ilmu komunikasi semakin dalam dan luas. Perkembangan paradigma komunikasi tersebut secara tidak langsung berpengaruh juga pada perkembangan sudut pandang pada komunikasi politik, sebagai bagian dari ilmu komunikasi yang terus berkembang. Ada 4 paradigma yang dikenal mempengaruhi tumbuh kembang ilmu komunikasi termasuk di dalamnya komunikasi politik.[1]

Menurut Harmon (dalam Moleong,2004: 49), paradigma adalah cara mendasar untuk melakukan persepsi, berpikir, meni-lai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang realitas. Bogdan & Biklen (dalam Mackenzie & Knipe,2006) menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi, kon-sep, atau proposisi yang berhubungan secara logis, yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Sedangkan Baker (dalam Mo-leong, 2004: 49) mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan yang (1) mem-bangun atau mendefinisikan batas-batas; dan (2) menjelaskan bagaimana sesuatu harus di-lakukan dalam batas-batasitu agar berhasil.

Cohenn & Manion (dalam Mackenzie & Knipe, 2006) membatasi paradigma sebagai tu-juan atau motif filsofis pelaksanaan suatu pene-litian. Berdasarkan definisi diatas, dapat kita tarik benag merahnya bahwa paradigma ialah suatu konsep, metode dan kaidah-kaidah aturan- aturan yang dijadikan suatu kerangka kerja pelaksanaan dalam sebuah penelitian.

VARIAN VARIAN PARADIGMA

Paradigma penelitian adalah pola pikir atau cara pandang (aliran/mazhab) mengenai keseluruhan proses, format dan hasil peneli-tian. Ragamnya dintaranya adalah: (1) Positi-vis; (2) Interpretif; dan (3) Kritis.

·        •Paradigma Positivis

Paradigma Positivisme merupakan ali-ran filsafat yang dinisbahkan/ bersumber dari pemikiran Auguste Comte seorang filosof yang lahir di Montpellier Perancis pada ta-hun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain filosof Inggris John Stuart Mill (juga seorang ahli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. Pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya an-tara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Posi-tive (Sistem politik positi)f. Pandangan para-digma ini didasarkan pada hukum-hukum dan prosedur-prosedur yang baku; ilmu dianggap bersifat deduktif,berjalan dari hal yang umum dan bersifat abstrak menuju yang konkit dan bersifat sepesifik; ilmu dianggap nomotetik, yaitu didasarkan pada hukum-hukum yang kausal yang universal dan melibatkan sejum-lah variable.Paradigma positivitis pada ak-hirnya melahirkan pendekatan kuantitatif.

·        •Paradigma Interpretif

Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretatif diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretatif merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi. (Newman,1997: 68). Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam me-mahami makna sosial. Interpretif melihat fak-ta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang me-lekat pada sistem makna dalam pendekatan interpretatif. Fakta-fakta tidaklah imparsial, objektif dan netral. Fakta merupakan tindakan yang spesifik dan kontekstual yang beragan-tung pada pemaknaan sebagian orang dalam situasi sosial. Interpretif menyatakan situasi sosial mengandung ambiguisitas yang besar. Perilaku dan pernyataan dapat memiliki mak-na yang banyak dan dapat dinterpretasikan dengan berbagai cara. (Newman, 2000: 72).Paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prose-dur yang baku;, setiap gejala atau peristiwa bisa jadi memiliki makna yang berbeda; ilmu bersifat induktif, berjalan dari yang sepesi-fik menuju ke yang umum dan abstrak. Ilmu bersifat idiografis, artinya ilmu mengungkap realitas melalui simbol-simbol dalam bentuk deskriptif. Pendekatan interpretif pada ak-hirnya melahirkan pendekatan kualitatif.

·        •Paradigma Kritis

Paradigma kritis lahir tidak lepas dari Institut penelitian sosial di Frankfurt (Insti-tut für Sozialforschung) didirikan pada ta-hun 1923 oleh seorang kapitalis yang berna-ma Herman Weil, seorang pedagang grosir gandum, yang pada akhir hayat “mencoba untuk cuci dosa” mau melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan di dunia (termasuk dalam skala mikro: penderitaan sosial dari kerakusan kapitalisme). Para-digma kritis adalah anak cabang pemiki-ran marxis dan sekaligus cabang marxisme yang paling jauh meninggalkan Karl Marx (Frankfurter Schule). Cara dan ciri pemiki-ran aliran Frankfurt disebut ciri teori kritik masyarakat “eine Kritische Theorie der Gesselschaft”. Paradigma ini mau menco-ba memperbaharui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Beberapa tokoh Teori Kritis angkatan pertama adalah Max Hork-heimer, Theodor Wiesengrund Adorno (musi-kus, ahli sastra, psikolog dan filsuf), Fried-rich Pollock (ekonom), Erich Fromm (ahli psikoanalisa Freud), Karl Wittfogel (sinolog), Leo Lowenthal (sosiolog), Walter Benjamin (kritikus sastra), Herbert Marcuse (murid Heidegger yang mencoba menggabungkan fenomenologi dan marxisme, yang juga selan-jutnya Marcuse menjadi “nabi” gerakan New Left di Amerika). Ciri khas paradigma Kritis adalah bahwa paradigma ini berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Pendekatan paradigma kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni.[2]

•ELEKTIF PARADIGMA

Sifat eklektif paradigma ini telah dilukiskan oleh Wilburn Scramm sebagai jalan simpang yang paling ramai dengan se gala disiplin yang melintasinya. Komunikasi yang multi makna dan multi definisi telah menyuguhkan cara pandang (frame) yang beragam pula, terutama dalam mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai suatu di siplin ilmu yang bersifat eklektif artinya menggabungkan beberapa disiplin (Nurhadi, 2015). Se jak semula para pakar acapkali mengkaji komunikasi manusia dengan menggunakan (secara terang terangan) konsep, teori dan model ilmu fisika, psikologi dan sosiologi, sejarah, bahasa, dan sebagainya. Tidak mengherankan bila hingga saat ini masih banyak kalangan luar yang meragukan komunikasi sebagai di siplin ilmu sendiri. Bahkan ada dari kalangan psikologi atau so siologi yang masih merasa komunikasi manusia sebagai bagian dari disiplinnya. Mereka kurang memahami bahwa kajian ko munikasi memang telah meminjam dari berbagai disiplin dan telah meracik dan mengolahnya sendiri menjadi suatu konsep atau teori sehingga sangat bersifat eklektif,

 

Dalam perkembangannya sebagai suatu bidang kajian yang eklektif, pengaruh disiplin lain terhadap ilmu komunikasi, teru tama ilmu fisika, psikologi dan sosiologi memang sangat besar dan sangat terasa. Hal ini, sekaligus telah melahirkan berbagai pendekatan dan wawasan yang saling berbeda baik dalam merumuskan definisi komunikasi maupun dalam penelitian atau pengkajian empirik. Perbedaan perbedaan itu pada akhirnya menumbuhkan dua hal yang sangat penting sebagai suatu fakta, yaitu lahirnya fraksi fraksi di kalangan ilmuwan komunikasi dan lahirnya berbagai paradigma atau perspektif dalam kajian komunikasi manusia.

 

Tak dapat disangkal bahwa para pakar ilmu komunikasi bukanlah kelompok yang bersatu pandangan dan wawasan mengenai konseptualisasi komunikasi sebagai suatu disiplin ilmiah. Artinya para pakar menghargai adanya perbedaan wawasan dan perbedaan paradigma atau perspektif yang satu dengan lainnya. Para pakar komunikasi merupakan kelompok yang mempunyai ikatan yang sangat “longgar”, dan malah di dalamnya terdapat fraksi fraksi dengan paradigma masing masing. Itulah sebabnya Feyerabend (1975) menyebut komunikasi sebagai ilmu yang di tandai oleh paradigma yang multi muka. Multi paradigma seperti ini, bukanlah hal yang khas komunikasi, karena hampir seluruh disiplin dalam ilmu sosial, berpara digma ganda. Hal ini, bukanlah suatu hal yang perlu disesalkan, tetapi sebaliknya merupakan kekuatan ilmu sosial yang mem bedakannya dengan ilmu alam.

 

Istilah paradigma berasal dari Thomas Kuhn (1970, 1974), yang digunakan tidak kurang dari 21 cara yang berbeda. Namun Robert Fredrichs (1970) berhasil merumuskan paradigma itu secara jelas sebagai “suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (sub jek matter) yang semestinya dipelajari”. Kuhn melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara ku mulatif, tetapi terjadi secara revolutif. Dalam masa tertentu ilmu sosial didominasi oleh suatu paradigma. Kemudian terjadi pergantian dominasi paradigma, dari paradigma lama yang memudar kepada paradigma baru. Dalam hal ini, paradigma baru bukanlah kelanjutan dari paradigma lama. Sosiologi misalnya dalam perkembangannya memiliki tiga paradigma yang berbe da satu dengan yang lain, yaitu paradigma (1) fakta sosial, (2) definisi sosial, dan (3) perilaku sosial.

 

Di tempat berbeda Guba menjelaskan paradigma sebagai “..@ set of basic belief (or metaphysid that diels with ultimits or first principle...a world view that defines, for its holder, at the nature of the world. Oleh karena itu, paradigma berperan vital dalam melihat setiap kajian atau penelitian. Sebab hal ini, ber kaitan dengan aspek filosofis dalam melihat kompleksitas feno mena.

 

Dilihat dari beberapa paradigma yang selama ini berkem bang, Eriyanto menjelaskan perjalanan paradigma dibagi men jadi tiga bagian, yaitu:

 

Pertama, Paradigma Positivisme empiris oleh penganut aliran ini bahasa dipandang sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Salah satu ciri dari paradigma ini adalah pemisahan antara pemikiran dengan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacana konsekuensi logis dari pemi kiran ini adalah orang tidak perlu mengetahui makna makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya sebab yang terpenting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara be nar menurut kaidah sintaksis dan semantik.

 

Kedua adalah Paradigma Konstruktivisme. Paradigma ini banyak dipengaruhi oleh pandangan fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Dalam pandangan paradigma ini bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai per nyataan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan hubungan sosialnya.

 

Ketiga adalah Paradigma Kritis. Paradigma ini hanya sebatas memenuhi kekurangan yang ada dalam paradigma konstruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Seper ti ditulis AS. Hikam, paradigma konstruktivisme masih belum menganalisa faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana yang pada gilirannya berperan sebagai pembentuk jenis-jenis subjek tertentu berikut perilaku perilakunya. Paradigma ini bersumber pada pemikiran Frankfurt School, yang berusaha mengkritisi pandangan konstruktivis. Ia bersumber dari gagasan Marx dan Hegel jauh sebelum sekolah Frankfurt berdiri. [3]



[1] http://ilkom.unida.gontor.ac.id/paradigma-komunikasi-politik/

[2] Muslim, VARIAN-VARIAN PARADIGMA, PENDEKATAN, METODE, DAN JENIS PENELITIAN DALAM ILMU KOMUNIWahana, Vol. 1, No. 10, Ganjil, Tahun Akademik 2015/2016EKATAN, https://www.google.com/url?q=https://journal.unpak.ac.id/index.php/wahana/article/download/654/557&sa=U&ved=2ahUKEwi7uqHg6K3xAhUU-nMBHdouDPMQFjALegQICxAB&usg=AOvVaw0Sq9WhlsmyTAN_AQlKpp_U.

[3] Zikri Fachrul Nurhadi, Teori komunikasi kontemporer, Prenada Media, 2017, hlm, 25-28.

TEKNIK BERFIKIR KRITIS - M ULUL AZMI

A. LATAR BELAKANG Menurut Ennis berpikir kritis adalah berpikir logis dan reflektif yang difokuskan pada pengambilan keputusan yang akan dip...