Tokoh-tokoh Ilmu Komunikasi
· John Dewey(20 Oktober 1859- Amerika) Psikologi dan filsafat.
Tema utama karya Dewey adalah keyakinannya yang mendalam pada demokrasi, baik dalam politik, pendidikan, atau komunikasi dan jurnalisme. Seperti yang dikatakan Dewey sendiri pada tahun 1888, saat masih di Universitas Michigan, “Demokrasi dan satu-satunya, cita-cita etis yang utama bagi umat manusia menurut saya sama artinya.” Dewey menganggap dua elemen fundamental — sekolah dan masyarakat sipil — sebagai topik utama yang membutuhkan perhatian dan rekonstruksi untuk mendorong kecerdasan eksperimental dan pluralitas. Dia menegaskan bahwa demokrasi penuh diperoleh tidak hanya dengan memperluas hak suara tetapi juga dengan memastikan bahwa ada opini publik yang terbentuk sepenuhnya, yang dicapai dengan komunikasi antara warga negara, ahli dan politisi, dengan yang terakhir bertanggung jawab atas kebijakan yang mereka ambil.
Dewey adalah salah satu tokoh utama yang terkait dengan filsafat pragmatisme dan dianggap sebagai salah satu bapak psikologi fungsional. Makalahnya “The Reflex Arc Concept in Psychology,” yang diterbitkan pada tahun 1896, dianggap sebagai karya besar pertama di sekolah fungsionalis (Chicago). Sebuah survei Review of General Psychology, yang diterbitkan pada tahun 2002, menempatkan Dewey sebagai psikolog yang paling banyak dikutip di abad ke-93.
Dewey juga seorang pembaharu pendidikan utama untuk abad ke-20. Seorang intelektual publik yang terkenal, dia adalah suara utama dari pendidikan progresif dan liberalisme. Saat menjadi profesor di Universitas Chicago, dia mendirikan Sekolah Laboratorium Universitas Chicago, di mana dia dapat menerapkan dan menguji ide-ide progresifnya tentang metode pedagogis. Meskipun Dewey terkenal karena terbitannya tentang pendidikan, ia juga menulis tentang banyak topik lain, termasuk epistemologi, metafisika, estetika, seni, logika, teori sosial, dan etika.[1]
Bagi Dewey, untuk memahami setiap bagian dari pengetahuan dan hubungannya dengan individu atau masyarakat, seseorang harus memahami sejarahnya. Seperti banyak orang sezamannya, Dewey setuju bahwa teori perubahan historis adalah kunci untuk memahami masa kini: “Ilmu-ilmu besar abad ini adalah ilmu-ilmu sejarah dan sosial, yang diambil dari sudut pandang sejarah.” sejarah adalah kunci untuk mengkonseptualisasikan ruang lingkup dan urutan kurikulum. Seperti yang dijelaskan Dewey: “Masalah pendidikan — masalah membangun hubungan penting antara anak yang belum dewasa dan pencapaian budaya dan teknis dari kehidupan orang dewasa. . . terus meningkat dalam kesulitan. Menjadi diakui bahwa metode sejarah, lebih dari satu hal adalah kunci yang membuka kesulitan.[2]
· Charles Horton Cooley
· Robert Ezra park( 14 Februari 1864- Harvey ville) Filsafat dan ssosiologi
H arold Dwight Lasswell (1902-1978)
Dia telah digambarkan sebagai “universitas satu orang” yang “kompetensi dalam, dan kontribusi untuk, antropologi, komunikasi, ekonomi, hukum, filsafat, psikologi, psikiatri dan sosiologi sudah cukup untuk menjadikannya seorang ilmuwan politik dalam model Yunani klasik . [7]
Lasswell belajar di Universitas
Chicago pada 1920-an, dan sangat dipengaruhi oleh pragmatisme yang diajarkan di
sana, terutama seperti yang dikemukakan oleh John Dewey dan George Herbert
Mead. Namun, yang lebih berpengaruh
padanya adalah filsafat Freudian, yang menginformasikan banyak tentang
analisisnya tentang propaganda dan komunikasi secara umum. Selama Perang Dunia II, Lasswell menjabat
sebagai Kepala Divisi Eksperimental untuk Studi Komunikasi Waktu Perang di Perpustakaan
Kongres. Dia menganalisis film
propaganda Nazi untuk mengidentifikasi mekanisme persuasi yang digunakan untuk
mengamankan persetujuan dan dukungan dari penduduk Jerman untuk Hitler dan
kekejaman masa perangnya. Selalu
memandang ke depan, di akhir hidupnya, Lasswell bereksperimen dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang astropolitik, konsekuensi politik dari penjajahan
planet lain, dan “mesin kemanusiaan”.[8]
Robert k.merton
Konsep Merton tentang “panutan”
pertama kali muncul dalam sebuah penelitian tentang sosialisasi mahasiswa
kedokteran di Universitas Columbia. Istilah ini tumbuh dari teorinya tentang
kelompok referensi , kelompok di mana individu membandingkan diri mereka
sendiri tetapi mereka belum tentu termasuk. Peran sosial sangat penting bagi
teori kelompok sosial Merton . Merton menekankan bahwa, daripada seseorang yang
hanya mengemban satu peran dan satu status, mereka memiliki satu set status
dalam struktur sosial yang memiliki, melekat padanya, serangkaian perilaku yang
diharapkan. [12]
Claude Shannon
Pahlawan masa kecilnya adalah Thomas
Edison, yang kemudian dia ketahui sebagai sepupu jauh. Keduanya adalah keturunan John Ogden [perlu disambiguasi],
seorang pemimpin kolonial dan nenek moyang dari banyak orang terkemuka[13][14]
Nazwa sihab
Najwa Shihab, S.H. yang akrab dipanggil Nana (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 16 September 1977; umur 43 tahun)[1] adalah mantan pembawa acara berita di stasiun televisi Metro TV. Ia pernah menjadi anchor dalam program berita prime time Metro Hari Ini, Suara Anda dan program bincang-bincang Mata Najwa. Najwa adalah putri kedua Quraish Shihab, Menteri Agama era Kabinet Pembangunan VII. Nana menikah dengan Ibrahim Assegaf, dan sudah memiliki satu orang anak laki-laki yang akrab dipanggil Izzat (20 tahun).
Najwa adalah alumni Fakultas Hukum UI angkatan 1996. Semasa SMA ia terpilih mengikuti program American Field Service (AFS), yang di Indonesia program ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Amerika Serikat. Merintis karier di RCTI, tahun 2001 ia memilih bergabung dengan Metro TV karena stasiun TV itu dinilai lebih menjawab minat besarnya terhadap dunia jurnalistik.[2]
Pada bulan Agustus 2017, melalui episode Catatan tanpa Titik, ia secara resmi mengundurkan diri dari MetroTV yang telah membesarkan namanya. Dan pada 10 Januari 2018, Najwa Shihab melalui Mata Najwa tampil kembali di Trans7 dengan tetap menempati slot yang sama seperti sewaktu di Metro TV, yakni hari Rabu pukul 20:00 WIB.[3]
Pada tahun 2018, setelah
berkecimpung menjadi jurnalis selama 9 tahun, Najwa Shihab mendirikan Narasi
TV, sebuah perusahaan berita dan media omni-channel yang menciptakan dan mengelola
beberapa jenis konten.[4]
Ø
Jeremi
Teti
Jeremy Teti (lahir di Atambua, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 31 Maret 1968; umur 53 tahun) adalah salah satu presenter dan pembawa berita di Indonesia dalam acara berita Liputan 6 di SCTV.
Pada tahun
1994, ia memulai bekerja di SCTV Surabaya sebagai announcer continuity. Ia
melakukan siaran on air perdananya sebagai presenter Liputan 6 pada tanggal 24
Agustus 1996 bersama Ira Koesno di Liputan 6 Pagi. Sebagai jurnalis ia pernah
hampir terancam mati saat liputan pada saat Timor Timur akan berpisah dari
Indonesia dan juga pada saat ricuh tahun 1998. Ia pernah beberapa kali menjadi
nominator Panasonic Award. Dia dikenal dengan lagu yang dibawakan oleh komposer
ucapan Eka Gustiwana yang berjudul BBM Campuran.
Per 1 Agustus
2013, Jeremy Teti mengundurkan diri dari SCTV. Jeremy akan fokus ke dunia
hiburan setelah mengundurkan diri dari SCTV. Ia memang punya mimpi yang belum
terkejar yakni aktif di dunia entertainment. Setelah video Jeremy Teti berjudul
Jeremy Teti Nyanyi! - BBM Campuran diunggah oleh Eka Gustiwana, dia sering
diundang ke berbagai stasiun televisi untuk diwawancarai.
Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya Jeremy Teti memenangkan Panasonic Gobel Awards 2014 Kategori Presenter Berita & Talkshow Berita setelah lima kali mengikuti nominasi namun tidak juga menang.[5]
Maudi ayunda
Ayunda Faza Maudya atau yang lebih dikenal dengan Maudy Ayunda (lahir di Jakarta, 19 Desember 1994; umur 26 tahun) adalah seorang aktris, model, aktivis, penulis, penyanyi, dan penulis lagu Indonesia.
Ia memulai kariernya dalam film Untuk Rena produksi Miles Films pada tahun 2006. Kemudian ia membintangi beberapa film seperti Perahu Kertas (2012), Refrain (2013), dan Habibie & Ainun 3 (2019).
Untuk karier musik, Maudy merilis album pertamanya pada tahun 2011, Panggil Aku. . . dengan singel hitsnya berjudul "Tiba Tiba Cinta Datang". Sejak saat itu Maudy telah merils tiga album: Panggil Aku. . . (2011), Moments (2015), dan Oxygen (2018). Ia juga kerap mengisi jalur suara dalam film-film yang ia bintangi.
Selain membangun karier di dunia hiburan, Maudy juga menaruh perhatian pada dunia sosial, politik, dan ekonomi Indonesia, khususnya yang memberikan dampak langsung terhadap kehidupan anak muda. Pada tahun 2015, ia mendampingi Perdana Menteri Inggris, David Cameron, saat mengunjungi Jakarta.
Maudy terlibat dalam kampanye melawan perbudakan modern, yang meliputi kerja paksa, pernikahan, dan pekerjaan berbahaya. Pada Maret 2017, ia ditunjuk sebagai juru bicara melawan perbudakan modern di Istana Wakil Presiden. Melalui karyanya, ia mengenalkan kepada penggemarnya dengan realitas perbudakan modern, dan menggunakan platform media sosial untuk mempromosikan pesan tersebut.
Maudy merupakan pembicara termuda di Forum Ekonomi Global 2015. Pada tahun 2016 ia dipilih oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia sebagai Wanita Inspiratif Indonesia. Ia juga memenangkan BUBU Awards sebagai "Influencer Digital Terbaik" dan "Milenial Paling Berpengaruh" oleh Style Awards atas keterlibatan positifnya di media sosial dan kolaborasinya dengan CIMB Niaga dalam gerakan "Kejar Mimpi". Ia juga terpilih dalam Forbes Indonesia "30 Under 30" di kategori Art, Syle, and Entertainment pada tahun 2020 sebagai aktris yang inspirasional.[6]
Cak Lontong
Ir. Lies Hartono atau dikenal dengan nama Cak Lontong (lahir di Magetan, 7 Oktober 1970; umur 50 tahun) adalah pelawak berkebangsaan Indonesia. Ia terkenal dengan lawakan yang lucu dan mengena tanpa menjelek-jelekkan dan merendahkan pihak lain. Lawakannya sederhana dan disampaikan dengan bahasa baku terstruktur, namun mengandung logika absurd yang menantang pendengar untuk berpikir. Cak Lontong juga terkenal sebagai ahli silogisme dan kadang suka menyelipkan peribahasa ciptaannya. Dia membawa angin baru bagi dunia lawak Indonesia.
Sebagai komedian, Cak Lontong serbabisa dengan segala situasi, baik dalam lawakan berkelompok, maupun tampil tunggal. Ia memulai kariernya dengan grup lawak Ludruk Cap Toegoe di Surabaya. Insinyur alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini terkenal setelah menjadi bintang di Republik BBM asuhan Effendi Ghazali, tampil reguler di stand up comedian (komika) di Stand Up Comedy Show, Metro TV, dan panelis di Indonesia Lawak Klub, Trans 7. Tahun 2017, Cak Lontong menerima penghargaan di bidang seni-budaya dari alma maternya, ITS, bersama dengan penganugerahan gelar honoris causa bagi Menteri KKP, Susi Pudjiastuti.[7]
Nama Cak Lontong sebagai pelawak sudah punya karakter tersendiri. Kekhasan itulah yang membuat ia berbeda dengan pelawak lainnya, seperti mengucapkan salam lemper sebagai kata pembuka sebelum melawak. Selama ini Cak Lontong dikenal sebagai pelawak yang jago plesetan dan anekdot. Ia dituntut untuk cerdas, rada nyinyir, bisa menganalisis, dan mampu menawarkan solusi dari setiap topik yang diangkat.
Ia pun juga menjelaskan jika seorang komika menyalahkan penonton, itu bukan komika sejati, tetapi komika yang manja. Padahal tugas komika adalah menghibur penonton. Jika komika tidak bisa menghibur penonton, maka tugas komika gagal. Bukan penonton yang disalahkan, karena kegagalan si komika. Justru si komika yang tidak mampu memahami suasana. Diakui Cak Lontong, saat ini banyak komika yang tampil dengan materi bersingungan dengan kritik sosial dan SARA. Padahal banyak materi yang tidak harus membuat sakit hati orang karena menurutnya, tugas komika itu menghibur orang banyak.[8]
Guna menghindari materi yang menyinggung, Cak Lontong selalu mencari materi dari premis-premis sederhana baik dari sebuah kata atau istilah, misalnya tentang kata sabar, takut, atau istilah mikir dan gaptek.
Nama Lontong yang ia gunakan berasal dari pengalaman masa kecilnya, di mana pada waktu kanak-kanak hingga remaja, Lies mempunyai badan yang kurus dan tinggi menyerupai lontong, sehingga ia dipanggil dengan julukan demikian oleh teman-teman dan keluarganya. Kata Cak merupakan panggilan umum bagi lelaki di Jawa Timur.
Saat ini, kariernya pun terus meningkat di dunia hiburan. Tak hanya tampil di layar kaca maupun berbagai pentas, ia juga sempat bermain di film komedi layar lebar yang berjudul Comic 8 sebagai figuran. Ini adalah film pertama yang ia bintangi, menurut Cak Lontong, sebelumnya ia sempat mendapatkan tawaran main film, tetapi dinilai kurang cocok. Ia berpendapat bahwa ia ikut akting untuk meramaikan film komedi dan menikmati perannya sebagai komedian, apalagi filmnya termasuk sukses dengan banyaknya penonton dan diapresiasi.
Ia juga menyatakan bahwa dengan
komedi yang lahir dan berkembang dari stand-up comedy, masyarakat kini punya
pilihan film komedi lebih banyak lagi, yang sebelumnya hanya disuguhi komedi
berbau horor atau seks.[9]
[1]
Najwa Shihab, Diingatkan Anak Aceh”. Republika. 18 Mei 2007. Diarsipkan dari
versi asli tanggal 2007-09-29. Diakses tanggal 2007-06-19.
[2]
“Biografi Najwa Shihab”. Diakses tanggal
1 Juli 2014. Line feed character di |title= pada posisi 15 (bantuan)
[3]
“Program ‘Mata Najwa’ Nongol Lagi, Tapi Kini Pindah ke Trans7”. Tribunnews.com.
Diakses tanggal 2020-06-05.
[4]
Rahman, Adi Fida. “Najwa Shihab Sempat Galau Saat Bikin Startup”. Detikinet
(dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-09-07.
[5]
Jeremy Teti Mundur dari Liputan 6 dan Tekuni Dunia Hiburan; spoytif.com:
diakses 07 Maret 2014
[6]
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Maudy_Ayunda
[7]
Regional-Kompas: Cak Lontong, Alumnus ITS yang Sukses di “Jalan yang Sesat”,
diakses 6 Mei 2018
[8]
“Wajahnya Serius! Cak Lontong Andalkan Komedi Verbal, Bukan Fisik”. 23
September 2015
[2]
Thomas D. Fallace, John Dewey on History Education and the Historical Method,
hlm, 21-22.
[3]
https://www.wikizero.com/en/Charles_Horton_Cooley
[4]
GLENN JACOBS, INFLUENCE AND CANONICAL SUPREMACY: AN ANALYSIS OF HOW GEORGE
HERBERT MEAD DEMOTED CHARLES HORTON COOLEY IN THE SOCIOLOGICAL CANON, (Published
online in Wiley Interscience 2009), hlm,
117–144.
[5]
Robert Ezra Park, Human Communities: The City and Human Ecology, 1952
[6]
“Harold Lasswell | American political scientist”. Encyclopedia Britannica.
Retrieved 2021-02-20.
[7]
Book Review, 44 Psychiatric Q. 167, 167 (1970).
[8]
Stanley, Jay; Segal, David R. (1989). “The Garrison State”. Defense Analysis.
5: 83–86.
[9]
Kaufman, Michael T, (24 Februari 2003), Robert K. Merton, Sosiolog
Serbaguna dan Bapak dari Grup Fokus, Meninggal pada usia 92".
[10] “Robert K.
Merton”
[11] Merton, Robert
K, “Konsekuensi Tak Terantisipasi dari Tindakan Sosial Purposif” . Tinjauan
Sosiologis Amerika
[12] Gerald Holton (Desember 2004). Robert K. Merton, 4 Juli 1910 ·
23 Februari 2003 . 148 . American
Philosophical Society. ISBN 978-1-4223-7290-6. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Februari 2017.
[13]
MIT Professor Claude Shannon dies; was
founder of digital communications, MIT — News office, Cambridge, Massachusetts,
February 27, 2001
[14] CLAUDE ELWOOD SHANNON, Collected Papers,
Edited by N.J.A Sloane and Aaron D. Wyner, IEEE press, ISBN 0-7803-0434-9









