DIMENSI- DIMENSI KOMUNIKASI
Komunikasi menyangkut pesan-pesan yang dapat dibedakan berdasarkan penerima pesan dan fungsi pesan. Berdasarkan penerima pesan, komunikasi dapat dibedakan menjadi komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Bila dilihat dari fungsi pesan, komunikasi organisasi meliputi komunikasi formal dan komunikasi informal.
Komunikasi sangat penting dalam sebuah organisasi, karena menyangkut penyampaian pesan antar individu dan kelompok mengenai pekerjaan dalam organisasi. Menurut Effendy (2006: 122-130) dimensi komunikasi dalam kehidupan organisasi terbagi menjadi komunikasi internal dan eksternal.
1) Komunikasi Internal
Komunikasi internal dikenal dengan komunikasi instruktif, kontrol dan koordinatif yang integratif dan direktif ke arah tujuan. Dimensi komunikasi internal terdiri dari komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Komunikasi vertikal yakni komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan komunikasi ke atas (upward communication) adalah komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal-balik.Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, penjelasan-penjelasan kepada bawahannya. Bawahan memberikan saran-saran, pengaduan kepada pemimpin.
Komunikasi horizontal ialah komunikasi secara mendatar, antar anggota dengan anggota. Berbeda dengan komunikasi vertikal yang sifatnya lebih formal, komunikasi horizontal seringkali berlangusng tidak formal. Jenis komunikasi internal meliputi berbagai cara yang dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis, yakni:
- Komunikasi persona
- Komunikasi kelompok
(1) Komunikasi persona
Komunikasi persona ialah komunikasi antara dua orang dan Dapat berulang dengan dua cara: komunikasi tatap muka dan Komunikasi bermedia.
(2) Komunikasi kelompok
Komunikasi kelompok ialah komunikasi secara seseorang Dengan sekelompok orang dalam situasi tatap muka, Komunikasi kelompok bisa dengan kelompok kecil dan Kelompok besar.
2) Komunikasi Eksternal
Komunikasi eksternal ialah komunikasi antara pimpinan Organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Komunikasi eksternal Disebut juga dengan komunikasi adaptif dan kontrol terhadap Lingkungan demi kelangsungan hidup organsiasi. Komunikasi Eksternal terdiri atas dua jalur secara timbal balik, yakni komunikasi Dari organisasi kepada khalayak dan dari khalayak kepada organisasi.
a) Komunikasi dari organisasi kepada khalayak
Komunikasi dari organisasi kepada khalayak pada umumnya Bersifat informatif, sehingga khalayak merasa memiliki Keterlibatan. Komunikasi organisasi kepada khalayak dapat Melalui berbagai bentuk seperti, artikel surat kabar atau Majalah, pidato, brosur, poster, konferensi pers, dll. Pada zaman modern ini media massa memegang peranan penting dalam menyebarkan informasi untuk melancarkan komunikasi eksternal.
b) Komunikasi dari khalayak kepada organisasi
Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan Balik sebagai efek dari kegiatan komunikasi yang dilakukan Oleh organisasi.
Komunikasi multi-Kultural dalam interpretasi yang Berbeda sebagai suatu proses Komunikasi simbolik, interpretatif, Transaksional, kontekstual yang Dilakukan oleh sejumlah orang Karena memiliki perbedaan derajat Kepentingan tertentu, memberikan Pengertian dan harapan secara Berbeda terhadap apa yang Disampaikan dalam bentuk perilaku Tertentu sebagai makna yang Dipertukarkan.
Dinamika komunikasi sosial Dalam lingkup multikultural berporos Pada kesepahaman anggota Masyarakat. Kesepakatn bersama Dapat dijalin di antaranya melalui Pemanfaatan ruang publik dalam Musyawarah sosial. Ruang publik Dikenal juga dengan istilah public Sphere yang ditulis pertama kali pada 1962 dalam bahasa jerman Oeffentlichkeit oleh Jurgen Habermas. Ruang publik tersebut Pada dasarnya merupakan ruang Yang tercipta dari kumpulan orang Orang tertentu dalam konteks sebagai kalangan borjuis yang diciptakan seolah olah sebagai bentuk penyikapan terhadap otoritas publik. Jadi istilah ini dibentuk Habermas sebagai mediasi seluruh laipsan masyarakat dalam menjalin diskusi termasuk dalam mengatasi berbagai masalah atau isu yang sedang terjadi ditengah masyarakat.
Perkembangan Ruang Publik Pada masa itu tidak luput dari Adanya pertumbuhan literasi dan Seni sastra yang kemudian Berkembang menjadi sebuah Perlawanan yang ada pada Kenegaraan demi kemaslahatan yang Merupakan permasalahan politik. Dengan hadirnya kedai-kedai kopi Tersebut yang menajadi tempat Perkempulan sehingga terciptanya Jalan keluar dari isu-isu di negara Tersebut dpat dipisahkan. Hal ini Menunjukkan bahwa dibutuhkannya Ruang untuk berkumpul, berawal Sekedar tempat persinggahan berupa Kedai-kedai kopi yang biasanya Ditempati oleh penggiat sastra Kemuudian menjadi tempat perkumpulan bagi banyak ornag sehingga ditempat itulah tempat pemisah antara berbagai kelas-kelas sosial atau stratifikasi sosial tepecahkan, kemudian berubah menjadi tempatyang aman bagi mereka untuk mendiskusikan permaslahan kenegaraan Eropa yang absolut pada masa itu. Perkumpulan dari sekelompok orang yang berasal dari kelas sosial berbeda dengan mendiskusikan persoalan politik tentunya secara tidak langsung merupakan gambaran terjalinnya komunikasi antar budaya pada ruang publik dalam hal ini kedai-kedai kopi yang ada pada masa itu.
DAFTAR PUSTAKA
Widiyastuti, Widyantoro, DIMENSI-DIMENSI KOMUNIKASI ORGANISASI PADA FORUM PENGEMBANGAN KAMPOENG BATIK LAWEYAN, Universitas Sebelas Maret Surakarta 2018, hlm, 9-11.
Rulli Nasrullah, “Internet Dan Ruang Publik Virtual, Sebuah Refleksi atas Teori Ruang Publik Habermas”, Jurnal Komunikator, Vol.4 No. 1 (2012) hlm. 35.
Andri Kurniawan, Nibrasatul Yumna, Erna Tantri, Resistensi Ruang Publik di Tengah Covid-19 Perspektif Islam dan Komunikasi Multikultural, Komunike 12 (1), 24-40, 2020, https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/komunike/article/view/2253.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar